×
Ad

'Kuburan' Kulkas Penuh, Warga Terpaksa Buang Unit di Pinggir Jalan

Almadinah Putri Brilian - detikProperti
Minggu, 11 Okt 2026 17:10 WIB
Ilustrasi 'kuburan' kulkas. Foto: Getty Images/richard johnson
Jakarta -

Mandeknya proses daur ulang kulkas tak terpakai di Inggris dan Wales membuat munculnya 'kuburan' kulkas. Karena tempat penampungan penuh, warga setempat tidak bisa membuang kulkas ke tempat daur ulang untuk sementara waktu.

Pemerintah daerah setempat juga tidak bisa mengangkut kulkas-kulkas tak terpakai itu karena tempat penampungan penuh. Hal ini membuat banyak warga yang menaruh kulkasnya di depan rumah sembari menunggu agar kulkas tersebut bisa diangkut ke tempat daur ulang.

Dilansir dari BBC, hampir seperempat pemerintah daerah di Wales menyatakan telah menangguhkan layanan pengambilan kulkas-freezer dari rumah warga akibat keterbatasan ruang di tempat pembuangan. Cardiff adalah salah satu daerah yang terdampak.

Seorang warga Cardiff, Lee Young, telah berusaha untuk membuang kulkas-freezer miliknya selama 2 bulan terakhir.

"Saya sempat mencoba membawanya ke pusat daur ulang pada bulan Juli, tetapi diberi tahu bahwa barang itu tidak diterima. Ada yang bilang pihak pemerintah daerah akan mengambilnya, namun ternyata mereka juga tidak mau mengambilnya," katanya, dikutip dari BBC.

Sejak saat itu, kulkas tersebut terbengkalai di halaman belakang rumahnya. Ia tidak tahu kapan layanan pengambilan oleh pemerintah daerah akan kembali beroperasi.

Sementara itu, seorang aktivis dan juru kampanye Partai Konservatif di Newport, Michael Enea mengaku sering melihat peralatan rumah tangga tua di pinggir jalan dan berpendapat bahwa situasi ini bisa jadi akan semakin memburuk.

"Menurut saya, akan banyak warga di komunitas setempat yang tidak memiliki sarana untuk membuang kulkas dan *freezer* mereka, sehingga akhirnya mereka benar-benar membuang barang-barang tersebut begitu saja di jalanan. Hal ini cukup sering kita jumpai di Newport maupun di seluruh wilayah Wales," tuturnya.

Asosiasi Pemerintah Daerah atau Local Government Association (LGA) menyatakan telah mengidentifikasi puluhan pemerintah daerah di seluruh Wales dan Inggris yang terpaksa menghentikan atau membatasi layanan pengangkutan, dan diperkirakan akan ada lebih banyak lagi yang melakukan langkah serupa.

Sebagai informasi, di Britania Raya tidak bisa asal membuang kulkas begitu saja, ada mekanisme tersendiri yang harus dilakukan terlebih dahulu. Warga bisa membawanya ke tempat daur ulang atau pemerintah daerah setempat akan mengangkut kulkas dari rumah warga ke fasilitas daur ulang.

Menurut ketentuan hukum, kulkas dan freezer wajib dibuang dengan cara yang tepat untuk mencegah gas atau bahan yang digunakan dalam pembuatannya merusak lingkungan. Peralatan tersebut mengandung gas rumah kaca terfluorinasi dan bahan isolasi busa yang dapat melepaskan gas berbahaya jika tidak dibuang di fasilitas pengolahan khusus.

Ditambah lagi, gelombang panas yang sempat melanda Eropa beberapa waktu lalu juga menambah kulkas serta freezer yang perlu dibuang. Pada saat terjadi gelombang panas, umumnya kulkas dan freezer bekerja lebih keras agar suhu tetap dingin untuk menjaga makanan supaya tidak cepat basi atau rusak. Apabila alat elektronik itu bekerja terlalu keras secara terus menerus, maka akan semakin cepat rusak.

LGA menyatakan bahwa terdapat kekurangan kapasitas pengolahan khusus berskala nasional akibat penutupan sejumlah fasilitas dan serangkaian insiden, termasuk kebakaran. LGA menyebutkan bahwa hal ini menyebabkan sejumlah skema kepatuhan produsen, yang mengatur serta mendanai pengumpulan dan daur ulang limbah elektronik atas nama pihak manufaktur, menunda atau menghentikan pengambilan limbah dari fasilitas milik pemerintah daerah.

Dilansir dari Mirror, saking banyaknya limbah kulkas yang tidak tertampung, beberapa di antaranya dikirim ke Skotlandia atau negara Eropa lainnya untuk diproses lebih lanjut. Para pelaku industri memperkirakan kapasitas pengolahan tambahan di Inggris akan tersedia pada tahun 2027, namun mereka juga memperingatkan perlunya investasi jangka panjang agar sistem tersebut menjadi lebih tangguh.




(abr/das)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork