Kulkas dan freezer di jaringan ritel di sejumlah negara Eropa mendadak eror yang menyebabkan suhu meningkat sampai 50 derajat Celcius. Hal itu terjadi karena adanya serangan siber.
Banyak orang bertanya-tanya kenapa kulkas dan freezer bisa sampai mendapat serangan siber. Itu karena kulkas dan freezer di supermarket tidak hanya tersambung pada sambungan listrik, tapi termasuk internet.
Dilansir dari The Guardian, perangkat lunak (software) yang mengelola kulkas komersial terhubung ke internet, yang berarti baris-baris kode di dalamnya bisa rentan terhadap hacker atau peretas. Berbeda dengan komputer atau handphone yang sering mendapat imbauan untuk update software yang berisi perbaikan (patch) agar lebih aman, software pada peralatan seperti kulkas sering kali dibiarkan dalam waktu lama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut direktur operasi siber di perusahaan keamanan siber Bitdefender, Nick Jackson, salah satu alasan perusahaan lambat untuk melakukan update karena prosesnya yang lama. Mesin-mesin kulkas dan freezer harus tidak beroperasi yang tentunya bisa menjadi masalah untuk peritel makanan.
Nick menambahkan, bisa juga pengelola lemari pendingin tersebut tidak menyadari masalah ini. Mereka menganggap update tersebut bukan prioritas utama.
Saat insiden kulkas dan freezer supermarket eror pada Senin (2/11), peritel Coop di Swedia menyatakan beberapa lemari pendingin mereka terhubung ke jaringan seluler 4G, yang membuat perangkat tersebut lebih rentan. Sementara jaringan ritel ICA, menyebutkan sistem mereka disediakan oleh Danfoss, perusahaan asal Denmark yang sebelumnya menjadi target serangan siber di Perancis pada Oktober 2026.
Agar insiden serupa tidak terjadi lagi, para peritel bisa melakukan pembaruan (patching) pada sistem software mereka. Menurut grup penyedia lemari pendingin Belgia, Sabcobel, dampak peretasan yang terjadi pada Senin (2/11) bisa lebih buruk kalau mereka tidak melakukan pembaruan pada lemari pendingin setelah apa yang terjadi di Perancis bulan lalu.
Sementara itu, di Inggris belum terdampak dari serangan siber tersebut. Tapi para peritel sedang bekerja sama dengan National Cyber Security Centre (NCSC).
"(Para peritel) saat ini sedang bekerja sama dengan NCSC untuk memastikan lemari pendingin dan pembeku mereka seaman mungkin dari serangan," kata asisten direktur urusan regulasi di British Retail Consortium, Graham Wynn, dikutip dari The Guardian, Selasa (3/11/2026).
Sebagai informasi, puluhan supermarket di Eropa mendapat serangan siber yang berdampak pada kulkas dan freezer. Dilansir dari BBC, sekitar 40 supermarket Delhaize di Belgia dan Luksemburg mendapat serangan tersebut, dan beberapa supermarket lainnya di Swiss, Swedia, Belanda, Irlandia, sampai Finlandia juga mengalami hal serupa.
Dilansir dari CBS News, CEO Sabcobel Stephan Moelans menyatakan evaporator pada unit pendingin dan pembeku dialihkan ke mode pencairan es atau defrost.
"Kami mulai mengerahkan teknisi pada pukul 1 pagi untuk mengendalikan situasi. Kami bekerja sepanjang malam hingga pagi hari untuk memutus sambungan unit-unit yang terdampak jaringan," kata CEO Sabcobel, Stephan Moelans, kepada Belga, dikutip dari CBS News.
Serangan serupa juga pernah terjadi di Perancis pada Oktober 2026. Menurut keterangan kepolisian, para hacker mengambil alih kontrol unit pendingin di ratusan supermarket. Hal tersebut mengakibatkan kebakaran dan petugas terpaksa membuang bahan pangan karena sudah tidak layak konsumsi.
Hingga saat ini, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas peretasan yang menyasar peritel bahan pangan di Eropa tersebut.
(abr/das)
