Ruang-ruang kosong masih ada di mal-mal Jabodetabek. Hampir 90% ruang kosong ada di mal kelas menengah ke bawah atau mal 'rakyat'.
Walau demikian, mal-mal di Jabodetabek juga masih ramai didatangi pengunjung, baik untuk makan, sosialisasi, belanja, atau sekadar jalan-jalan.
"Kalau kita gabungkan antara Jakarta dan di luar Jakarta atau Bodetabek gitu ya, hampir 90 persen ruang kosong itu berada di mal-mal yang kelas menengah sampai ke bawah. Bahkan kalau kita pisahkan, di Jakarta itu ada sekitar 84 (persen) ruang kosong itu berasal dari kelompok ini sementara di Greater Jakarta itu angkanya bisa sampai 96 persen," kata Head of Research Department Colliers Indonesia, Ferry Salanto, dalam Colliers Virtual Media Briefing Q3 2026, Rabu (7/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara untuk tingkat okupansinya, mal kelas atas sekitar 90 persen terisi sementara mal kelas bawah sekitar 60 persen pada kuartal III 2026. Perbedaan tersebut bukan tanpa alasan.
Baca juga: Harga Sewa Mal di Jakarta Semakin Mahal |
Ferry menilai, mal-mal kelas atas pasarnya sudah terbentuk secara kuat, basis konsumennya jelas, ekosistem tenant-nya solid, dan banyak brand menarik yang membuat orang terus datang.
"Sementara mal yang tidak terlalu kuat itu memang mereka menghadapi lingkaran yang lebih sulit gitu ya. Jadi pengalaman-pengalaman belanjanya melemah, kemudian tenant juga semakin selektif untuk masuk, traffic berkualitas juga berkurang dan akhirnya memang sulit menarik tenant-tenant baru," katanya.
Maka dari itu, menurutnya upgrade mal itu penting untuk menggaet pengunjung dan meningkatkan transaksi di mal. Upgrade mal yang dimaksud bukan sekadar renovasi bangunan saja, tetapi juga memilih tenant yang relevan, memberikan pengalaman yang menarik, dan lainnya.
"Jadi ke depannya kompetensi antar mall ini akan semakin ditentukan oleh relevance, relevansinya, productivity-nya jadi bukan sekedar dari tingkat kompetensinya," tuturnya.
(abr/das)
