Harga sewa mal di Jakarta mengalami kenaikan pada semester II-2026. Berdasarkan laporan Knight Frank Indonesia, tarif sewa mal tumbuh sekitar 1,9 persen dibandingkan tahun lalu.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah perubahan kondisi mal yang belum merata di seluruh kelas mal. Pertumbuhan terutama terlihat pada mal dengan konsep experience-led.
Selain menawarkan pengalaman yang lebih beragam bagi pengunjung. Sejumlah mal juga mulai mengarah pada konsep berkelanjutan (sustainability) dan mengusung green concept.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah pandemi, beberapa mal kelas A telah berlabel hijau. Dengan berjalannya waktu, mal tersebut memiliki okupansi penyewa lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata mal pada umumnya di Jakarta. Angka ini menunjukkan pergeseran minat pasar dan adaptasi pengelola terhadap kebutuhan ruang.
"Perubahan demografi dan adopsi teknologi mendorong evolusi ritel Jakarta menuju experience-led retail, sekaligus membuka kembali peluang investasi pada aset ritel produktif, pada kelas tertentu. Di tengah pertumbuhan yang lebih selektif, green retail dapat memberikan value-added terhadap pengunjung, dengan ruang ritel yang menggabungkan sustainability features sebagai bentuk experiential led retail akan menjadikan ruang ritel semakin produktif sebagai long-term asset value," kata Country Head Knight Frank Indonesia Willson Kalip dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).
Di sisi lain, pasokan mal sudah mencapai 4.424.352 meter persegi. Angka tersebut naik 1 persen dari tahun sebelumnya dengan bertambahnya dua mal baru di Jakarta Selatan.
Dari pasokan tersebut, rerata tingkat okupansi mal meningkat tipis dari tahun lalu menjadi sekitar 78,2 persen.
Separuh tenant baru awal tahun ini berasal dari sektor F&B. Sektor tersebut memang yang paling aktif masuk ke mal, terutama pada bangunan yang memiliki green space. Apalagi tenant baru dari F&B lokal merajai ruang ritel.
Selain itu, tenant yang juga masih aktif masuk ke ruang ritel berasal dari sektor fashion, beauty, jewelry & accessories, lifestyle, dan entertainment.
Di samping itu, tantangan masih terlihat pada performa mal kelas menengah ke bawah. Mal tersebut masih perlu terus beradaptasi terhadap dinamika pasar saat ini.
(dhw/das)
