Pengembang mengusulkan agar harga rumah subsidi naik dengan mengirimkan surat kepada Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP). Namun, usulan tersebut belum sampai kepada Menteri PKP.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) meminta agar para pengembang menyampaikan usulan kenaikan harga rumah subsidi secara resmi berupa surat. Surat tersebut nantinya sebagai dasar untuk membuka agenda pembahasan bersama-sama, termasuk dengan BP Tapera.
"Kita tunggu suratnya, nanti kita bisa membahas resmi. Jadi suratnya dari biasa kita bahas ramai-ramai," ucap Ara di sela-sela acara Forum Koordinasi Penanganan Permukiman Kumuh Terpadu di Gedung BJ Habibie, Jakarta Pusat, Senin (14/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyatakan dirinya terbuka terhadap usulan dari pengembang. Mengingat pengembang merupakan bagian dari ekosistem perumahan.
"Yang penting disampaikan (usulan). Saya sudah minta pengembang menyampaikan kepada saya. Kita biasa usulan pengembang sangat kompak sebagai ekosistem," katanya.
Sejauh ini, ia merasa belum menerima surat terkait usulan tersebut. Untuk itu ia masih menanti surat resmi dari pengembang.
"(Belum disampaikan suratnya?) Belum," ungkap Ara.
Soal rencana perubahan harga, Ara menyatakan akan melakukan pembahasan terlebih dahulu. Ia belum bisa menyampaikan rencananya sebelum ada pembahasan.
Sebelumnya diberitakan, Ketua Umum APERSI Deddy Indrasetiawan menuturkan lima asosiasi pengembang yang terdiri dari APERSI, REI, Asprumnas, Appernas Jaya, dan Himperra telah menandatangani surat yang berisi usulan kenaikan harga rumah subsidi sebesar 12 persen. Surat tersebut kabarnya juga sudah dikirimkan ke Kementerian PKP.
"Pengajuannya (kenaikan harga rumah subsidi) 12 persen. Ya kita terima dari Menteri berapa (penyesuaian harga rumah subsidi). Karena kan kami tertekan kan karena (harga) material naik," tuturnya kepada detikcom.
Walau demikian, ia meminta agar para pengembang yang ada di bawah naungannya untuk tetap melanjutkan pembangunan rumah subsidi agar masyarakat bisa tetap memiliki opsi rumah layak huni yang terjangkau.
"Saya tetap nyemangatin teman-teman pengembang buat tetap bangun (rumah subsidi), jualan. Kita sambil bersabar aja," tuturnya.
(dhw/das)
