Pemerintah sedang mendorong program Gentengisasi untuk mengganti atap asbes dan seng menjadi genteng. Guna mendorong program ini, pemerintah memesan pasokan genteng dari sejumlah sentra produksi.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) menyebutkan saat ini sudah ada pemesanan sebanyak 2,5 juta genteng dari Plered, Purwakarta dan Jatiwangi, Majalengka. Dalam beberapa bulan ini, genteng itu akan siap untuk digunakan masyarakat.
"Bulan depan Oktober dan November untuk arahan Presiden (Prabowo Subianto) gentengisasi, 500 ribu genteng akan dikirimkan bulan depan di Purwakarta dan 2 juta genteng produk UMKM kita itu akan kita kirim ke Jatiwangi, Majalengka," kata Ara dalam Forum Koordinasi Penanganan Permukiman Kumuh Terpadu di Gedung BJ Habibie, Jakarta Pusat, Senin (14/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, masyarakat akan merasakan dampak pembangunan perumahan dengan program gentengisasi. Puluhan UMKM diberdayakan dan dibina untuk membuat genteng yang berkualitas.
Saat berbicara dengan awak media, ia menyampaikan saat ini penggunaan asbes paling banyak di Jakarta dan Bangka Belitung. Apalagi di Jakarta, rumah yang masih menggunakan asbes akan diganti menjadi genteng. Sebab, asbes dinilai berbahaya bagi kesehatan penghuni rumah.
"Ya kalau ada asbes ya kita ganti," tegasnya.
Sebelumnya, Ara sudah menyampaikan bahwa asbes seharusnya tidak dipakai sebagai atap tempat tinggal. Material tersebut terlalu berbahaya bisa memicu masalah kesehatan serius, seperti kanker paru-paru.
Ia akan merenovasi rumah-rumah yang memakai atap asbes. Namun, pemiliknya harus memenuhi syarat, minimal penghasilannya di bawah Rp 5,7 juta per bulan atau termasuk desil 1-4.
Hal ini ia sampaikan saat mengecek rumah-rumah kumuh yang akan diperbaiki lewat Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Menteng, Jakarta Pusat.
"Misalkan dulu (syarat bedah rumah) satu, lantainya rusak. Dua, temboknya. Tiga, atapnya. (Sekarang) salah satu saja (bagian rumah yang rusak) sudah bisa diperbaiki. Supaya kita permudah aturannya. Jangan dipersulit. Itu tolong sosialisasikan. Terutama asbes. Karena Jakarta itu pemakai asbes tertinggi di Indonesia dengan Bangka Belitung, ya. Karena asbes itu bisa bikin kanker paru-paru," kata Ara pada Sabtu (12/9/2026).
(dhw/das)
