Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) mendukung rumah-rumah yang memakai asbes untuk direnovasi. Ia mengatakan asbes dapat menyebabkan masalah kesehatan serius, seperti terkena kanker dan TBC.
"Karena asbes itu bisa buat TBC, Kanker," kata Ara saat berkunjung ke lokasi Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Bukit Duri, Jakarta Selatan, pada Sabtu (5/9/2026).
Ia mengatakan hal tersebut setelah Ketua RW setempat melaporkan bahwa ada 120 rumah yang juga bisa mendapatkan bantuan bedah rumah karena memakai atap dari asbes.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada 120 yang kata Ibu Dirjen (Sri Haryati) yang beratap asbes juga diajukan (dapat bantuan bedah rumah)," lapor Ketua RW setempat.
Dilansir dari situs Ayo Sehat yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan, disebut bahwa asbes bisa menyebabkan kanker paru-paru. Risiko menjadi jauh lebih tinggi pada orang yang terpapar asbes dan juga merokok.
Lalu, menurut laporan dari Environmental Litigation Group (ELG), sebuah firma hukum spesialis litigasi lingkungan dan cedera akibat paparan zat beracun (toxic tort) di Amerika, gejala penyakit tuberculosis (TBC) mirip dengan penyakit asbestosis yang disebabkan oleh asbes. Oleh karena itu, terkadang dokter memberikan diagnosis penyakit tersebut sebagai TBC.
Jika memiliki riwayat penyakit TBC juga tidak baik jika tinggal di rumah beratap asbes karena memperparah keadaan.
Kenapa Asbes Berbahaya?
Tanpa terlihat, atap asbes terdapat partikel super kecil yang berjatuhan tiap waktu. Partikel itu ketika terhirup dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan sulit dikeluarkan oleh tubuh. Serat yang menetap dapat memicu peradangan dan kerusakan jaringan dalam jangka panjang.
Dampaknya tidak langsung terasa. Penyakit akibat asbes umumnya memiliki masa laten yang panjang dan dapat baru muncul 10-40 tahun atau lebih setelah pajanan pertama. Inilah sebabnya seseorang dapat merasa sehat saat ini. Layaknya bom waktu, tunggu beberapa tahun ke depan tubuh akan mulai kesulitan bertahan dari risiko akibat serat asbes ini.
Dari sini bisa dilihat bahwa dampak asbes sangat serius. Oleh karena itu, Kementerian PKP telah menetapkan rumah sebaiknya tidak memakai asbes. Mereka menyarankan untuk beralih ke genteng yang jauh lebih aman dan adem.
Sebelumnya Ara juga pernah menyinggung soal atap asbes saat meninjau rumah-rumah warga di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan yang akan direnovasi pemerintah.
Ia mengusulkan agar rumah-rumah yang akan direnovasi oleh pemerintah atapnya tak lagi memakai asbes. Ia juga meminta ada aturan yang mengatur soal larangan tersebut.
"Boleh nggak, boleh mungkin dipikirkan peraturan karena sudah tahu bahaya. Pertama, belum tentu semua rakyat tahu bahaya (asbes). Kedua, diedukasi kalau perlu dilarang lagi pembangunan baru pakai asbes. Jadi yang lama-lama kita ganti, kita perbaiki. Tapi yang baru dilarang pakai asbes. Coba dipikirkan seperti itu," kata Ara pada Jumat (22/8/2026).
