Warga bantaran rel Senen kini sudah menempati hunian yang disiapkan pemerintah. Hunian tersebut jauh lebih layak daripada rumah yang mereka tempati sebelumnya.
Relokasi warga bantaran rel Senen ke hunian yang layak bermula dari kunjungan mendadak Presiden Prabowo Subianto pada Maret 2026. Setelah itu, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) bersama BP Danantara, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Hutama Karya (Persero), dan PT PP (Persero) Tbk membangun hunian sementara (huntara) yang gratis selama 6 bulan pertama.
Pembangunan 324 unit huntara ini telah selesai pada 15 Juni. Lalu, pada Jumat (28/8/2026) malam Presiden Prabowo Subianto kembali mengunjungi lokasi. Ia mengecek kondisi hunian serta bertemu dengan warga yang sudah menempati hunian tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Malam ini menemui warga di hunian barunya. Mereka sebelumnya tinggal di kawasan pinggir rel kereta api Stasiun Senen, Jakarta. Semoga rumah baru ini menjadi tempat tinggal yang lebih layak, aman, dan nyaman bagi seluruh keluarga," tulisnya dalam akun Instagram @prabowo, dikutip Sabtu (29/8/2026).
Salah satu warga, Suryani, menyampaikan rasa syukurnya karena tidak lagi harus tinggal di bantaran rel, tempat yang telah menjadi rumahnya sejak berusia tujuh tahun.
"Bapak (Prabowo), terima kasih. Saya sudah senang banget Bapak sudah kasih tempat tinggal yang layak buat saya. Saya sudah enggak kaget lagi, Pak, tidur dengar suara kereta. Makanya saya bersyukur banget," ujar Suryani, dikutip dari siaran pers Bakom RI.
Dirinya telah tinggal di bantaran rel sejak kecil. Dibawa orang tua sejak usia sekitar tujuh tahun dan menjalani kehidupan di sana hingga dewasa. Selama puluhan tahun suara kereta menjadi bagian dari keseharian hingga ia terbiasa tidur dengan suara kereta yang melintas.
Meski sudah terbiasa dengan kereta, Suryani menyebutkan selalu ada kekhawatiran ketika terdengar kabar adanya pembongkaran atau penertiban dari PT KAI.
"Kalau lagi ada bongkaran itu kan suka ada dari PT KAI, dibongkar gitu, terus kadang suka ada razia, razia KTP itu yang saya takutkan," ungkapnya.
Setelah sekitar dua bulan tinggal di Hunian Senen, Suryani menyampaikan kehidupannya terasa jauh lebih nyaman.
Warga lainnya, Syahrur Rosi (58) yang berasal dari Madura ini mengatakan dulu tinggal di hunian beratap terpal sebelum direlokasi ke huntara.
"Ya bersyukur, bahagia semuanya. Semuanya, yang awalnya dari atap terpal sekarang jadi kayak rumah. Alhamdulillah bahagia semuanya," ungkap Syahrur.
Sebagai informasi, huntara di kawasan Senen yang disediakan oleh pemerintah berdiri di lahan 1,61 hektare milik PT Angkasa Pura Indonesia. Setiap hunian dilengkapi dengan perabotan dan fasilitas pendukung, seperti toilet bersama, musala, dapur umum, ruang komunal, taman bermain anak, serta area parkir.
"Satu unit Huntara akan dilengkapi dua tempat tidur, lemari, dan kipas angin. Selain itu, kawasan ini juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti tempat makan, WC, dapur, mushola, dan ruang terbuka hijau," kata Menteri PKP Maruarar Sirait dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (19/4/2026).
Kepala BP BUMN Dony Oskaria mengatakan warga bisa tinggal di Hunian Senen tanpa dibebankan biaya alias gratis. Warga tidak perlu bayar biaya sewa, listrik, dan air selama enam bulan.
"Untuk tahap awal tidak akan dipungut biaya. Listrik dan air juga akan digratiskan terlebih dahulu. Nanti setelah enam bulan akan dilakukan evaluasi terkait pengelolaannya," ujar Dony.
