Nggak Melulu di Jakarta, Bodetabek Dinilai Perlu Dibangun CBD Baru

Nggak Melulu di Jakarta, Bodetabek Dinilai Perlu Dibangun CBD Baru

Danica Adhitiawarman - detikProperti
Jumat, 21 Agu 2026 18:08 WIB
JAKARTA, Indonesia. January 27, 2018: Aerial view of Jakarta modern buildings near Semanggi CBD Area
Ilustrasi kota Foto: Getty Images/iStockphoto/CreativaImages
Jakarta -

Jakarta sudah menjadi kota metropolitan yang dominan dibandingkan kota-kota lainnya. Padahal, kota-kota penyangga Jakarta dinilai juga membutuhkan pengembangan kawasan pusat bisnis (CBD).

Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Adriadi Dimastanto mengatakan kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) perlu dikembangkan menjadi pusat bisnis kedua di kawasan aglomerasi Jakarta. Pengembangan ini harus dilakukan agar masyarakat tidak tergantung pada Jakarta, khususnya untuk bekerja.

"Jadi sebetulnya harus tuh punya orientasi-orientasi baru. Jadi kalau Jakarta kita sebut sebagai pusat CBD, kita harus punya second-second CBD. Jadi harusnya Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang itu menjadi second CBD," kata Adriadi dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (21/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan konsep ini masyarakat di Bodetabek tidak perlu pergi ke Jakarta setiap hari untuk memenuhi kebutuhan layanan.

Di sisi lain, kawasan sekitar sebenarnya ikut menampung beban Jakarta. Banyak masyarakat yang bekerja di Jakarta tetapi tinggal di kota-kota sekitar.

ADVERTISEMENT

"Saat ini Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang menampung beban Jakarta. Masyarakat bekerja di Jakarta, tinggal di Bodetabek," imbuhnya.

Menurutnya, Jakarta sebagai Primate City sangat jauh disparitasnya dengan kota sekitar. Terjadi ketimpangan pengembangan antara Jakarta dan kota penyangganya.

"Contohnya, ketimpangan anggaran antara Jakarta dan kota di sekitarnya. Jakarta memiliki anggaran hingga Rp 80 triliun, sedangkan Depok hanya sekitar Rp2-3 triliun," jelasnya.

Kondisi tersebut membuat perkembangan kabupaten/kota di Bodetabek kian melebar secara sporadis atau urban sprawl. Oleh karena itu, diperlukan orientasi baru dalam pengembangan kawasan metropolitan.

Fasilitas, seperti rumah sakit, sekolah, hingga layanan rekreasi perlu tersedia di kota-kota tersebut. Namun, dia juga menekankan pembangunan fasilitas saja tidak cukup. Kabupaten/Kota Bodetabek harus memiliki lapangan pekerjaan yang memadai.

Adriadi membandingkan konsep tersebut dengan kawasan Greater Tokyo di Jepang. Tokyo menjadi CBD utama, sedangkan kota seperti Yokohama, Chiba, dan Kawasaki berkembang sebagai pusat-pusat kegiatan ekonomi lainnya.

"Jadi kalau kita bisa menciptakan lapangan-lapangan kerja baru di ring luar ini, itu akan membuat warga/penduduk itu enggak bergantung lagi ke Jakarta," katanya.

Adriadi menambahkan Dewan Kawasan Aglomerasi Jakarta tengah digodok. Hal ini diharapkan menjadi solusi dalam mengintegrasikan tata kelola dan pembiayaan kawasan metropolitan. Sebab, kota-kota kedua di sekitar Jakarta menghadapi tantangan besar karena harus menanggung beban pertumbuhan kawasan metropolitan, tetapi memiliki keterbatasan dalam pembiayaan pembangunan.

Ia juga menegaskan kegiatan ini berfokus pada konsep next generation cities. Menurutnya, perencanaan kota saat ini harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan pergeseran karakter generasi.

"Sebuah kota jangan direncanakan untuk hari ini, tapi untuk masa depan dan harus bisa menjawab karakter semua lapisan masyarakat. Seperti bagaimana disrupsi teknologi telah mengubah mobilitas dan cara masyarakat berinteraksi dengan ruang perkotaan, sehingga perencanaan harus diproyeksikan untuk 20 hingga 30 tahun ke depan," jelasnya.

Sementara itu, Ketua IAP Jakarta Meyriana Kesuma mengatakan hampir seluruh wilayah di sekitar Jakarta telah berkembang, tetapi persoalan utama saat ini adalah pemerataan pembangunan dan integrasi kawasan.

Kemudian, tingginya harga tanah juga membuat masyarakat, termasuk generasi muda, semakin sulit memiliki rumah di kawasan sekitar Jakarta.

"Pemerataan tidak hanya menyangkut hunian, tetapi juga harus diikuti dengan ketersediaan lapangan pekerjaan di masing-masing wilayah. Kalau Tangerang sudah mahal tapi dia tidak punya tadi pekerjaan, itu juga agak sulit kan. Jadi tetap harus ada pemerataan," ucap Meyriana.

(dhw/dhw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads