Sebelum memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta sempat 'diculik' oleh golongan pemuda pada 16 Agustus 1945. Kedua tokoh itu dibawa ke sebuah rumah yang jaraknya cukup jauh dari pusat Jakarta, yakni di Rengasdengklok, Karawang.
Soekarno dan Hatta sebenarnya tak benar-benar diculik, melainkan diasingkan supaya didesak untuk mengumumkan Indonesia merdeka secepat mungkin. Kedua tokoh tersebut akhirnya berunding di sebuah ruang tamu bersama para golongan muda.
Rumah itu diketahui milik Djiauw Kie Siong, seorang petani keturunan Tionghoa. Awalnya hanya bangunan biasa yang berada di tepi Sungai Citarum, tapi kini selalu ramai dikunjungi wisatawan menjelang 17 Agustus karena jadi saksi bisu perumusan proklamasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim detikProperti berkesempatan mengunjungi rumah bersejarah tersebut. Dari luar, bangunan ini tampak sederhana dengan desain atapnya yang mirip seperti rumah joglo khas Jawa.
Rumah Bersejarah Djiauw Kie Siong di Rengasdengklok, Karawang. Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom |
Masuk ke dalam, terdapat beberapa ruangan termasuk kamar tidur yang dipakai Soekarno dan Hatta selama diasingkan ke Rengasdengklok. Soekarno menempati kamar sebelah kanan, sedangkan Hatta di sisi kirinya.
Pada bagian tengahnya terdapat ruang tamu yang digunakan oleh Soekarno, Hatta, dan golongan muda untuk membahas rencana kemerdekaan Indonesia. Kini, area itu berfungsi sebagai altar yang dilengkapi foto dan nama Djiauw Kie Siong.
Keturunan generasi ketiga dari keluarga Djiauw Kie Siong, Lani, menceritakan soal sejarah rumah Rengasdengklok. Rumah itu dibangun oleh kakeknya pada 1920-an, artinya sudah berdiri sekitar 25 tahun sebelum peristiwa Rengasdengklok terjadi.
"Rumah ini berdiri tahun 1920-an, kalau tanggal, bulan, nggak inget. Jadi sekarang udah berdiri selama 106 tahun," kata Lani saat ditemui di Rengasdengklok, Rabu (12/8/2026).
Rumah Bersejarah yang Hampir Lenyap Tergerus Sungai
Rumah Djiaw Kie Siong di Rengasdengklok. Foto: Muhammad Azzam/detikFoto |
Rumah ini awalnya terletak di pinggir Sungai Citarum. Namun karena sering banjir akibat meluapnya debit air sungai, bangunan bersejarah itu terancam lenyap akibat tergerus sungai.
Kondisi itu membuat pemerintah setempat menyarankan agar rumah milik Djiauw Kie Siong itu dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Akhirnya rumah itu mulai dibongkar dan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman, sekitar 200 meter dari titik awal.
"Abis banjir besar tahun 1957, memang kami sih nggak kebanjiran di daerah situ, cuma hampir semua Rengasdengklok kena. Nah setelah banjir, kami dikasih tau kalau bisa rumahnya dipindah daripada kegerus air. Jadi setelah banjir selesai, ya sama kakek dipindah lah (rumahnya)," ujar Lani.
Seluruh Rumah Dibongkar dan Dirakit Ulang
Hebatnya, rumah berusia lebih dari 100 tahun itu benar-benar dibongkar pasang. Artinya, seluruh material mulai dari genteng, lantai, pintu, hingga jendela dicopot dan dipasang lagi di lokasi yang sekarang.
"Lokasi rumahnya dipindahin ke sini. Rumah dicopot, terus pasangin di sini. Jadi rumahnnya tetap ini, cuma lokasinya aja yang pindah. Kalau sekarang di sana udah jadi (sungai) Citarum," paparnya.
Meski seluruh material pada rumah ini dipertahankan keasliannya, tapi ada sedikit perubahan pada bangunannya. Seperti luas rumah yang sekarang sedikit lebih kecil daripada di lokasi awal dibangun.
Lalu, dinding kamar Soekarno dan Hatta sudah diganti dengan material kayu yang lebih baru. Sebab, tampias dari air hujan membuat dinding kayu jadi lapuk sehingga harus diganti.
"Kalau bentuknya berubah kan namanya kayu kepotong ya. Kalau luas tanah, di sana lebih luas," ungkap Lani.
Tempat Tidur Soekarno-Hatta yang Usianya Lebih dari 1 Abad
Kamar tidur yang digunakan Soekarno dan Mohammad Hatta saat diasingkan ke Rengasdengklok, Karawang. Foto: Vicky Fadly Ardana Putra/detikcom |
Kamar tidur yang ditempati Soekarno di Rumah Bersejarah Djiauw Kie Siong dihiasi dengan banyak bingkai foto, sebuah lemari pakaian, dan sebuah lukisan macan di dinding. Lalu ada meja kerja lengkap dengan kursi yang terdapat tulisan dilarang diduduki.
Hal yang sama juga ditemui di kamar tidur Hatta. Di dalamnya ada lemari pakaian, meja, dan foto-foto Bung Hatta yang dibingkai dan ditempel di dinding.
Masing-masing kamar terdapat tempat tidur dengan model kelambu yang dipakai Soekarno dan Hatta beristirahat. Menariknya, tempat tidur yang dicat hitam ini usianya justru lebih tua daripada rumah itu sendiri.
"Ini (kasur) udah 100 tahun lebih. (Sudah ada dari rumah dibangun?) Enggak, dari sebelumnya bahkan. Kan tahun 1920-an rumah ini dibangun, kakek saya (Djiauw Kie Siong) bangun rumah ini pas udah usia 40 tahun," ucap Lani.
Meski begitu, hanya tempat tidurnya saja yang dipertahankan orisinalnya. Sedangkan bantal, guling, seprai, hingga kain kelambu tempat tidur sudah bukan yang asli, tapi modelnya disesuaikan dengan tempat tidur zaman dulu.
Perabotan dan Material Bangunan Masih Dipertahankan Keasliannya
Lemari pakaian di kamar yang ditempati Mohammad Hatta. Foto: Vicky Fadly Ardana Putra/detikcom |
Walau sudah dipindahkan dari lokasi aslinya, tapi rumah bersejarah ini tetap mempertahankan orisinalnya. Gentengnya masih menggunakan tanah liat model lama, rangka atapnya masih pakai kayu bambu, plafon dari anyaman bambu, dan lantainya masih dari tanah liat yang dipasang seperti paving block.
Beberapa perabotan di Rumah Djiauw Kie Siong juga masih asli, seperti kaca besar di ruang tamu, tempat tidur yang dipakai Hatta, lemari kayu berusia 80 tahun, hingga kursi semata yang bagian dudukannya terbuat dari anyaman.
Berbeda dengan banyak bangunan bersejarah yang dijadikan museum, Rumah Djiauw Kie Siong justru masih dihuni oleh keturunan keluarga. Lani dan suaminya kini menempati sekaligus merawat rumah tersebut sampai sekarang.
"Ini masih rumah keluarga, kami masih tinggal di sini dan masih dirawat," pungkas Lani.
(ilf/das)




