Kisah Rumah Sejarah Rengasdengklok yang Hampir Lenyap Tergerus Sungai

Kisah Rumah Sejarah Rengasdengklok yang Hampir Lenyap Tergerus Sungai

ilham fikriansyah - detikProperti
Senin, 17 Agu 2026 11:15 WIB
Rumah Djiaw Kie Siong menjadi saksi keberadaan Soekarno-Hatta di Rengasdengklok. Kini, rumah berusia lebih dari seabad itu mulai lapuk.
Rumah Djiaw Kie Siong di Rengasdengklok, Karawang. Foto: Muhammad Azzam/detikFoto
Jakarta -

Salah satu momen bersejarah menjelang kemerdekaan Indonesia adalah peristiwa Rengasdengklok. Pada 16 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta dibawa oleh golongan muda ke sebuah rumah di daerah Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.

Tujuan Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok bukan untuk diculik, tapi keduanya didesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, yang kini diperingati setiap 17 Agustus.

Kedua tokoh tersebut 'diasingkan' ke sebuah rumah milik seorang petani keturunan Tionghoa bernama Djiauw Kie Siong. Di tempat ini lah Soekarno, Hatta, dan para pemuda berdiskusi soal rencana kemerdekaan RI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tim detikProperti berkesempatan mengunjungi rumah bersejarah tersebut. Dari luar, bangunan ini tampak sederhana dengan desain atapnya yang mirip seperti rumah joglo khas Jawa.

Masuk ke dalam, terdapat beberapa ruangan termasuk kamar tidur yang dipakai Soekarno dan Hatta selama diasingkan ke Rengasdengklok. Soekarno menempati kamar sebelah kanan, sedangkan Hatta di sisi kirinya.

ADVERTISEMENT

Pada bagian tengahnya terdapat ruang tamu yang digunakan oleh Soekarno, Hatta, dan golongan muda untuk membahas rencana kemerdekaan Indonesia. Kini, area itu berfungsi sebagai altar yang dilengkapi foto dan nama Djiauw Kie Siong.

Rumah Djiaw Kie Siong menjadi saksi keberadaan Soekarno-Hatta di Rengasdengklok. Kini, rumah berusia lebih dari seabad itu mulai lapuk.Bagian tengah Rumah Djiaw Kie Siong yang kini menjadi altar. Foto: Muhammad Azzam/detikFoto

Keturunan generasi ketiga dari keluarga Djiauw Kie Siong, Lani, menceritakan soal sejarah rumah Rengasdengklok. Rumah itu dibangun oleh kakeknya pada 1920-an, artinya sudah berdiri sekitar 25 tahun sebelum peristiwa Rengasdengklok terjadi.

"Rumah ini berdiri tahun 1920-an, kalau tanggal, bulan, nggak inget. Jadi sekarang udah berdiri selama 106 tahun," kata Lani saat ditemui di Rengasdengklok, Rabu (12/8/2026).

Rumah ini awalnya terletak di pinggir Sungai Citarum. Namun karena sering banjir akibat meluapnya debit air sungai, bangunan bersejarah itu terancam lenyap akibat tergerus sungai.

Kondisi itu membuat pemerintah setempat menyarankan agar rumah milik Djiauw Kie Siong itu dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Akhirnya rumah itu mulai dibongkar dan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman, sekitar 200 meter dari titik awal.

"Abis banjir besar tahun 1957, memang kami sih nggak kebanjiran di daerah situ, cuma hampir semua Rengasdengklok kena. Nah setelah banjir, kami dikasih tau kalau bisa rumahnya dipindah daripada kegerus air. Jadi setelah banjir selesai, ya sama kakek dipindah lah (rumahnya)," ujar Lani.

Hebatnya, rumah berusia lebih dari 100 tahun itu benar-benar dibongkar pasang. Artinya, seluruh material mulai dari genteng, lantai, pintu, hingga jendela dicopot dan dipasang lagi di lokasi yang sekarang.

"Lokasi rumahnya dipindahin ke sini. Rumah dicopot, terus pasangin di sini. Jadi rumahnnya tetap ini, cuma lokasinya aja yang pindah. Kalau sekarang di sana udah jadi (sungai) Citarum," paparnya.

Meski seluruh material pada rumah ini dipertahankan keasliannya, tapi ada sedikit perubahan pada bangunannya. Seperti luas rumah yang sekarang sedikit lebih kecil daripada di lokasi awal dibangun.

Lalu, dinding kamar Soekarno dan Hatta sudah diganti dengan material kayu yang lebih baru. Sebab, tampias dari air hujan membuat dinding kayu jadi lapuk sehingga harus diganti.

"Kalau bentuknya berubah kan namanya kayu kepotong ya. Kalau luas tanah, di sana lebih luas," ungkap Lani.

Rumah Djiaw Kie Siong menjadi saksi keberadaan Soekarno-Hatta di Rengasdengklok. Kini, rumah berusia lebih dari seabad itu mulai lapuk.Bagian depan kamar tidur Soekarno di rumah Rengasdengklok. Foto: Muhammad Azzam/detikFoto

Selebihnya, rumah bersejarah ini tetap mempertahankan orisinalnya. Gentengnya masih menggunakan tanah liat model lama, rangka atapnya masih pakai kayu bambu, plafon dari anyaman bambu, dan lantainya masih dari tanah liat yang dipasang seperti paving block.

Beberapa perabotan di Rumah Djiauw Kie Siong juga masih asli, seperti kaca besar di ruang tamu, tempat tidur yang dipakai Hatta, lemari kayu berusia 80 tahun, hingga kursi semata yang bagian dudukannya terbuat dari anyaman.

Berbeda dengan banyak bangunan bersejarah yang dijadikan museum, Rumah Djiauw Kie Siong justru masih dihuni oleh keturunan keluarga. Lani dan suaminya kini menempati sekaligus merawat rumah tersebut sampai sekarang.

"Ini masih rumah keluarga, kami masih tinggal di sini dan masih dirawat," pungkas Lani.

Bangunan bersejarah ini bisa dikunjungi setiap harinya, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Tak ada biaya tiket masuk, pemilik rumah hanya menyediakan kotak donasi yang bisa diisi secara sukarela.



(ilf/ilf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads