Akhir-akhir ini viral di media sosial rumah-rumah mewah di kawasan elite, seperti Pondok Indah dan Menteng dipasang poster tanda sedang dijual. Padahal kawasan tersebut terkenal sebagai tempat tinggal yang strategis dan dikelilingi oleh pemilik dari kelas atas, apa yang terjadi?
Menurut pengamat properti sekaligus CEO of Indonesia Property Watch Ali Tranghanda saat ini ditemukan banyak orang kaya mulai melepas aset propertinya satu per satu. Alasannya karena sudah terlalu banyak aset.
Selain itu, saat ini terjadi pergeseran tren di mana properti bukan lagi instrumen aset yang bisa menarik untung besar. Investasi yang menarik saat ini justru bergeser ke saham dan kripto yang nilainya bisa melambung tinggi atau banyak juga yang melirik emas yang nilainya lebih terjaga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Properti itu bukan primadona. Penjualannya itu nggak bagus. Kenaikannya nggak membuatnya menarik. Mungkin dia main saham, main kripto, itu mungkin lebih menarik atau emas. Tapi kalau kita bicara yang 5 tahun sebelumnya itu (properti) primadona," kata Ali saat ditemui dalam acara Press Conference The People's Choice 2026, Indonesia's Top Consumer Voted Awards, di Raffles Hotel Jakarta pada Senin (10/8/2026).
Pergeseran tren ini dinilai wajar karena tren terus berubah dari waktu ke waktu.
"Orang kaya mungkin lebih mungkin ke diversifikasi, nggak tahu lah. Tapi artinya memang ada kecenderungan itu," ujarnya.
Tren maraknya rumah premium di kawasan elite dijual sebenarnya sudah terlihat dalam 3 tahun terakhir.
"Saat ini meskipun masih ada yang beli tapi trennya sudah menurun. Kenapa? Sejak 3 tahun lalu lah. Jadi kenapa saya bilang si orang yang investor ini, orang yang Rp 3 miliar atau Rp 5 miliar ini, dia udah kebanyakan aset. Dengan kondisi yang mungkin nggak terlalu bagus," jelasnya.
Meski begitu, jumlah pembeli rumah mewah terutama di atas Rp 5 miliar juga masih tinggi bahkan di atas jumlah rumah Rp 2 miliar ke bawah yang mendapatkan bebas pajak pembelian. Alasannya memberi rumah mahal masih menjadi suatu aset kebanggaan bagi kalangan atas.
"Dia (membeli sebagai) aset, dia simpan aja. Bisa menyewakan lagi, bisa. Tapi dia itu kayak semakin atas orang beli itu semakin kebanggaan. Kayak ada harga Rp 60 miliar, Rp 80 miliar," terangnya.
