Orang kaya pergi ke Maladewa biasanya sekadar berlibur. Namun, sekarang ada opsi buat orang berlindung dari ancaman bencana besar atau 'kiamat' di sini.
Ada pengembang yang benar-benar akan membangun pulau 'anti-kiamat' di Maladewa. Memang proyek ini belum dimulai, pengembang itu masih harus mencari 'sultan' untuk memulai pembangunan.
Dilansir dari Daily Mail, Private Islands Inc berencana mengembangkan pulau pribadi dengan nama The Adaptive Atoll. Pulau ini diklaim bakal tahan gempa dan kenaikan permukaan laut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pulau seluas 22 hektare itu dipromosikan sebagai aset warisan untuk kondisi dunia yang tidak menentu pada 2100. Perusahaan ini memberikan solusi untuk potensi krisis tenggelamnya daratan.
Terdapat jaringan rel di bawah laut menjadi 'sistem pemandu besar' yang dibangun di dasar laguna ini. Rel itu terbuat dari kayu dan batu karang yang dirancang untuk naik bersama lautan. Hal ini memungkinkan untuk memindahkan seluruh kawasan seiring dengan naiknya permukaan air laut.
Kepala eksekutif sekaligus pendiri Private Islands Inc, Chris Krolow, mengatakan tujuan utama resor ini adalah untuk mengatasi krisis tenggelamnya daratan. Perusahaannya mengembangkan teknologi yang memerangi kenaikan permukaan laut dengan memisahkan resor dari daratan tetap.
"Resor tradisional di atas air menghadapi penurunan nilai yang cepat akibat naiknya permukaan laut dan biaya operasional pengerukan pasir yang tak henti-hentinya. Ini bukan risiko teoretis yang jauh di masa depan-ini terlihat secara nyata," kata Krolow dikutip dari Daily Mail, Minggu (9/8/2026).
Dia mengatakan konsep arsitektur dan teknik kelautan ini sangat kompleks dan teknologinya memang sudah ada saat ini. Krolow mengambil contoh dari infrastruktur kelautan terapung dan hasil reklamasi lahan yang dibangun di tempat lain.
Pulau ini punya ruang yang cukup untuk menampung lebih dari 30 orang. Tak hanya berisi kamar tidur, pulau ini juga punya klub anak-anak, lho.
Nah, pulau ini bisa jadi milik siapa saja yang punya uang berlebih sebesar US$ 450 juta atau sekitar Rp 8 triliun (Rp 17.891). Dengan harga proyek segitu, pembeli yang cocok tentunya orang dengan kekayaan sangat tinggi, termasuk pengusaha sangat sukses hingga pendiri perusahaan teknologi.
Bagaimana, tertarik untuk punya pulau 'anti-kiamat' ini? Siapkan dana Rp 8 triliun dulu ya.
