×
Ad

Lahan Industri Semarang Laris Manis, Investor Terus Berdatangan

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Kamis, 09 Jul 2026 09:31 WIB
Ilustrasi lahan industri. Foto: Dwiky Maulana Velayati
Jakarta -

Semarang kini jadi pilihan banyak investor dan pelaku industri membangun pabrik. Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto menemukan ada sederet daya tarik dari kawasan tersebut dibandingkan area barat dan timur Jawa.

Pertama, harga lahan di Jawa Timur, terutama Semarang masih kompetitif, meski lebih rendah jika dibandingkan dengan daerah Jakarta dan Surabaya. Rentang harganya di Semarang sekitar Rp 1,5-5 juta per meter persegi, Surabaya Rp 1,5-6,5 juta per meter persegi, sementara Jakarta sekitar Rp 2-6,5 juta per meter persegi. Kenaikan harga lahan di Semarang cukup tajam sekitar 8 persen dibandingkan Jakarta dan Surabaya yang lebih stabil.

"Jadi memang secara harga memang awalnya dia rendah, tapi kita lihat bahwa presentasi kenaikan per tahunnya itu jauh lebih besar dibandingkan di Greater Jakarta atau Surabaya," kata Ferry dalam acara Virtual Media Briefing Q2 pada Rabu (8/7/2026).

Daerah yang paling ramai saat ini adalah Kota Semarang dengan 3 titik lahan industrial, yakni Kawasan Industri Wijaya Kusuma, Kawasan Industri Candi, dan BSB Industrial Park.

Lokasi dengan harga lahan tertinggi berada di Semarang yang saat ini sudah menyentuh Rp 5 juta per meter persegi. Sementara, Kendal sekitar Rp 2,2 jutaan, Batang dan Demak Rp 2 juta.

Lalu, dari sisi pasokan saat ini mencapai 4.100 hektare dengan potensi diperluas sekitar 2.700 sampai tahun 2030.

Dalam 3 tahun terakhir sudah 120 hektare lahan yang laku. Kebanyakan berpusat di Kabupaten Batang, disusul Kabupaten Kendal, Semarang, lalu Demak. Sektor industri yang masuk pun semakin beragam. Jika dahulu berasal dari industri padat karya, sekarang sudah masuk manufaktur, farmasi, elektronik, hingga data center.

"Jadi kalau dia makin beragam, sektor yang masuk makin banyak, akan semakin kuat daya tahan kawasan industri terhadap perubahan ekonomi global," ujarnya.

Kedua, Upah Minimum Provinsi (UMP) yang disebut rendah, tetapi angkatan kerja produktifnya cukup besar. Ketiga adalah ekosistem industri semakin bagus. Banyak investor atau pengembang yang memiliki lahan di kawasan tersebut telah meningkatkan infrastruktur dan prasarana di sana. Selain itu, pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga sudah memberikan dukungan untuk industri ini.

"Jadi harga murah ini bukan jadi prioritas utama, tapi kualitas infrastruktur dan juga bagaimana ekosistem di kawasan itu bisa mendukung operasional dari pabrik-pabrik yang mau buka," jelasnya.

Ferry menyatakan sekumpulan daya tarik tadi yang mengubah posisi Semarang menjadi salah satu koridor industri yang semakin kompetitif di Pulau Jawa.

"Semarang menjadi alternatif yang menarik bagi perusahaan yang ingin melakukan relokasi ataupun melakukan ekspansi untuk manufakturnya," ungkapnya.




(aqi/das)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork