Beberapa wilayah di Australia tengah dihadapkan dengan wabah tikus. Hewan pengerat ini menyerbu rumah-rumah hingga lahan pertanian.
Dilansir dari ABC Australia, daerah yang mengalami pertumbuhan tikus yang cukup besar ditemukan di bagian Australia Barat dan Australia Selatan.
Tikus berdatangan bukan hanya mencari makanan, mereka juga menyerang tanaman, gudang, silo penyimpanan biji, hingga rumah warga. Beberapa warga bahkan jadi takut pulang ke rumah karena jumlahnya sangat banyak. Apabila jumlahnya disimulasikan, kira-kira ada 10 tikus di dalam ruangan ukuran 3x4 meter. Ngeri, bukan?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami punya tikus di rumah, kami punya tikus di mobil, mereka ada di gudang kami, mereka ada di ladang kami, mereka ada di sekolah, mereka ada di mana-mana," kata Steve Henry, pakar wabah tikus dari CSIRO, seperti dikutip pada Rabu (3/6/2026).
"Ada orang yang jarinya digigit tikus, ada juga yang pulang dari liburan dan menemukan tikus bersarang di tempat tidur mereka," tambahnya.
Jumlah tikus yang bermunculan saat ini sudah termasuk wabah karena menurut lembaga sains nasional, CSIRO, diperkirakan pada beberapa komunitas pertanian jumlahnya telah mencapai 8.000 tikus per hektar.
Jumlahnya telah masuk dalam kategori wabah karena lebih dari 800 tikus per hektar. Satu hektar itu berukuran 100x100 meter.
CSIRO mengaku kesulitan untuk menghitung jumlah tikus yang berkembang di Australia saat ini. Bahkan dalam satu lahan pun akan sulit. Namun, mereka membuat perkiraan dengan menghitung jumlah liang tikus.
Mereka menemukan 40 liang per 100 meter persegi dalam satu lahan. Berarti ada sekitar 4.000 liang per hektar.
Lalu, dalam satu liang kemungkinan ada 2 tikus, sehingga peneliti memperkirakan ada 8.000 tikus per hektar.
Bukan Kejadian Pertama Kali di Australia
Sebenarnya wabah tikus di beberapa daerah di Australia sudah beberapa kali terjadi, bahkan ada siklusnya setiap 4-5 tahun sekali setelah hujan lebat.
Wabah tikus ini diperkirakan telah terjadi sejak tahun 1880-an di lahan pertanian gandum Australia.
Wabah terburuk pernah melanda Australia terjadi pada 1993. Serangan tikus ini menyebabkan kerugian sekitar US$ 96 juta atau setara dengan Rp 1,7 triliun (kurs Rp 17.929).
Terakhir kali, wabah serupa dengan jumlah kasus yang tak terkendali di NSW dan Queensland terjadi pada tahun 2021. Kerugiannya diperkirakan hingga jutaan dolar serta tekanan mental.
"Dalam beberapa tahun terakhir, kami semakin sering menerima laporan tentang jumlah tikus yang sangat banyak," ungkap Henry.
"Dan khususnya di daerah sekitar Geraldton, di mana tikus sangat merajalela saat ini, mereka telah mengalami empat tahun panen yang sangat baik dalam lima tahun terakhir," tambahnya.
(aqi/zlf)











































