Tidak ada warga yang menyangka bahwa desa nelayan mereka yang indah akan hancur karena terbenam gundukan pasir. Kejadian memilukan ini di desa tanpa nama di Brasil pada 1970-an.
Dilansir The Sun, dahulunya, desa tersebut banyak didatangi wisatawan karena memang dekat dengan laut. Desa ini juga cukup unik karena rumah-rumah penduduk dibangun di tengah jalur bukit pasir.
Keunikan ini juga ternyata membawa malapetaka. Butiran pasir tersebut pelan-pelan terbawa angin ke arah desa. Jatuh di jalan-jalan dan lorong rumah. Kondisi menjadi genting ketika menyadari bahwa pasir-pasir itu ternyata juga menutupi sumur-sumur kecil warga yang merupakan sumber air bersih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seiring waktu, penumpukan pasir menghasilkan volume yang sangat besar, cukup untuk mengubur tidak hanya rumah-rumah, tetapi juga sumur-sumur kecil, yang merupakan sumber air bagi masyarakat," kata Profesor Jeovah Meireles, seperti dikutip detikcom pada Senin (1/6/2026).
Gundukan pasir terus berterbangan hingga warga tidak bisa berbuat apa-apa. Satu per satu nelayan yang tinggal di sana memilih untuk pindah. Kira-kira pada 1978 adalah tahun terakhir desa tersebut terlihat di permukaan sebelum benar-benar hancur dan terkubur di bawah gurun.
Gumpalan pasir raksasa di gurun ini kira-kira terdiri dari 140.000.000 meter kubik pasir yang menerjang sekolah, klinik, hingga rumah warga tidak tersisa.
Desa Tatajuba di Brasil. Foto: Balai Kota Camocim via The Sun |
Para penduduk pindah ke daerah terdekat dan akhirnya mendirikan distrik mereka sendiri, Tatajuba, yang telah secara resmi diakui pada 2025.
Seorang nelayan, João Batista dos Santos, mengenang bahwa ibunya harus meninggalkan rumahnya saat masih hamil.
"Dahulu ada sebuah desa nelayan di sana, tetapi bukit pasir menutupi semuanya, tidak ada yang bisa diselamatkan," ujarnya.
Seorang guru sejarah Sheila Abreu yang tinggal di desa Tatajuba selama lima tahun merasa bahwa kehancuran rumah di sana tak terhindarkan.
"Kita tidak bisa menghentikan alam; kita bisa mencoba, tetapi kita tidak bisa," kata Sheila Abreu.
Meskipun demikian, hilangnya desa tersebut masih diratapi hingga hari ini.
"Dulu itu adalah desa yang sangat besar, yang seandainya tidak terkubur, hampir akan menjadi kota saat ini," kata João Batista.

