Rupiah Babak Belur, Pengembang Makin Ogah Garap Proyek Baru

Rupiah Babak Belur, Pengembang Makin Ogah Garap Proyek Baru

Danica Adhitiawarman - detikProperti
Sabtu, 30 Mei 2026 10:10 WIB
Ilustrasi Rumah.
Ilustrasi rumah (Foto: Ezequiel Demaestri via Freepik)
Jakarta -

Dolar Amerika Serikat (AS) semakin perkasa dan menekan rupiah. Bahkan dolar AS kemarin sudah berada di zona Rp 17.800-an.

Kondisi ini ternyata memengaruhi para pengembang perusahaan. Mereka semakin ragu untuk memulai proyek perumahan baru.

Menurut Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, pelemahan rupiah memberi tekanan pada sisi pembangunan. Pengembang cenderung lebih berhati-hati dan selektif untuk membangun proyek baru, menunggu sampai kondisi makro lebih stabil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kondisi ini, pengembang biasanya melakukan strategi untuk fokus pada proyek-proyek yang memiliki permintaan kuat. Mereka juga lebih mengutamakan proyek yang perputaran penjualannya cepat.

"Mereka (pengembang) tidak terlalu jorjoran ekspansi untuk proyek baru," ujar Ferry kepada detikProperti, Jumat (29/5/2026).

ADVERTISEMENT

Pasalnya, biaya konstruksi dapat meningkat secara bertahap.Apalagi untuk proyek yang menggunakan bahan bangunan impor seperti baja, aluminium, serta bahan finishing lain.

"Perlemahan nilai tukar rupiah ini berpotensi meningkatkan harga bahan bangunan.Terutama yang masih bergantung pada impor atau menggunakan komponen yang berbasis dolar AS," ucapnya.

Di sisi lain, daya beli masyarakat semakin tertekan akibat pelemahan rupiah. Untuk itu, pengembang akan lebih mempertimbangkan kemampuan pasar ketika membangun proyek, menetapkan harga beli serta promo. Pengembang tak akan langsung menaikkan harga properti, melainkan secara bertahap.

"Untuk jangka pendek mungkin (harga properti) belum langsung terjadi lonjakan besar karena sebagian pengembang masih memiliki stok material atau kontrak harga sebelumnya," ucapnya.

Namun kalau pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu yang cukup lama, tekanan harga akan semakin terasa.

Terpisah, CEO Indonesia Properti Watch (IPW) Ali Tranghanda mengungkapkan hal senada, pelemahan rupiah dalam jangka panjang dapat meningkatkan biaya konstruksi. Sebab, bahan konstruksi semakin mahal.

Ia mencontohkan bangunan berbasis besi dan baja biaya konstruksinya sudah naik 23 persen. Biaya konstruksi baru pun telah naik 10-13 persen. Hal ini membuat para pengembang berpotensi menunda pembangunan baru.

"Harga rumah masih tertahan meskipun harga konstruksi naik. Pengembang fokus pada rumah ready stock daripada membangun baru. Para pengembang hati-hati menaikkan harga rumah terkait daya beli yang masih belum pulih," kata Ali.

Pengembang akan fokus pada arus kas sebelum berencana membangun rumah baru. Apalagi pencairan dari bank pun terganggu.

Bagi pengembang besar, peluncuran produk masih berjalan. Namun pengembang lebih berhati-hati serta serah terima menjadi lebih lama.

(dhw/das)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads