BI Rate Melonjak Jadi 5,25% Bisa Bikin Cicilan KPR Bengkak!

BI Rate Melonjak Jadi 5,25% Bisa Bikin Cicilan KPR Bengkak!

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Minggu, 24 Mei 2026 16:10 WIB
Ilustrasi KPR
Ilustrasi KPR. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen setelah nilai Rupiah terus melemah. Ini merupakan kabar buruk untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) karena besar cicilan dapat membengkak karena bunga yang naik.

"Ketika BI-Rate naik, biaya dana bank ikut meningkat sehingga bank cenderung menyesuaikan bunga KPR, terutama KPR dengan skema bunga floating atau mengambang," kata Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo kepada detikcom pada Sabtu (23/5/2026).

Saat suku bunga acuan naik, bunga deposito dan cost of fund perbankan ikut naik sehingga bank perlu menjaga margin keuntungan dan risiko likuiditas dengan menaikkan bunga kredit, termasuk KPR floating. Kondisi Rupiah dan inflasi juga menjadi salah satu faktor bank menyesuaikan bunga kredit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun penyesuaian ini telah diumumkan beberapa hari yang lalu, dampaknya kemungkinan baru akan terasa 3-6 bulan ke depan atau saat masa fixed rate berakhir. Namun, untuk yang baru mengambil KPR konvensional tentu langsung terasa.

ADVERTISEMENT

Besar kenaikan tergantung pada harga rumah, jumlah cicilan, dan lama angsuran yang diambil. Arianto memberikan ilustrasi jika rumah yang kita beli Rp 500 juta, tenor 15 tahun dengan bunga 10 persen, maka cicilan sebelum suku bunga acuan naik seharusnya sekitar Rp 5,37 juta per bulan.

Jika bunga naik menjadi 10,5 persen akibat penyesuaian BI Rate, maka cicilan membengkak jadi sekitar Rp 5,51 juta per bulan atau bertambah sekitar Rp 140 ribu per bulan.

Terpisah, pengamat properti yang juga Direktur Global Asset Management Steve Sudijanto mengatakan jika ingin membeli rumah dengan KPR lebih baik cari bank yang memberikan bunga tetap 2-3 tahun di awal dengan suku bunga rendah. Dalam jangka waktu tersebut pemilik rumah bisa mengevaluasi keuangan sembari menunggu suku bunga kembali turun.

Menurutnya dengan kondisi geo-politik saat ini tidak bisa ditentukan kapan suku bunga akan turun sehingga lebih baik berhati-hati.

"Seluruh dunia ini lagi stabilitas energi itu sekarang lagi nggak nyaman. Jadi biaya minyak itu agak mahal. Imbasnya juga ke segala lini bisnis karena biaya energi cost itu lagi tinggi sekarang. Jadi kalau mau bilang lama, ini cukup lama, cukup rumit kali ini, keadaan dunia semakin rumit. Jadi siaga aja, jangan cari KPR atau rumah yang di luar budget lah," tutur Steve pada Minggu (24/5/2026).

Lalu, menurut adanya kenaikan BI Rate ini akan menurunkan minat masyarakat untuk membeli rumah apalagi memakai KPR konvensional karena mahal.

"Akan menurunkan minat masyarakat membeli rumah, namun tentunya berbeda dengan rumah subsidi yang saat ini menjadi prioritas pemerintah dengan bunga tetap 5 persen," ujarnya.




(aqi/abr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads