Tenaga Ahli Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Harry Endang Kawidjaja mengatakan pengembang di Jawa Barat saat ini kesulitan mendapatkan pasokan material bahan bangunan. Banyak yang akhirnya mencari ke Jawa Tengah seperti Brebes dan Banten.
"Sekarang beli material perumahan Jawa Barat, terutama Bogor, rata-rata belinya ke Banten, ke Cilegon, ke Bojonegara," kata Endang setelah Diskusi Media Inovasi Pembiayaan Perumahan Bagi Pekerja Informal pada Jumat (22/5/2026).
Kelangkaan dan naiknya harga bahan bangunan ini disebabkan oleh ditutupnya beberapa tambang material bangunan ilegal dan kenaikan harga BBM. Kenaikan bahan bangunan yang paling mahal adalah material alam, seperti pasir dan batu. Kenaikan hingga 50 persen. Sementara itu, besi dan baja juga mengalami kenaikan, tapi tidak terlalu signifikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang paling tinggi sih di material alam ya, sampai 50 persen, pasir, batu," papar Harry.
Hal ini menyebabkan pasokan material bangunan yang ada jadi rebutan antara pembeli dari Jawa Barat dengan pembeli lokal. Tidak hanya itu, pengembang dari Jawa Barat juga harus menanggung biaya pengiriman bahan bangunan yang mahal
"Yang Jawa Barat sudah berebut, jauh pula nganternya. Biaya logistik jadi tinggi, mungkin itu yang bisa (naik biaya material alamnya) sampai 50 persen," tuturnya.
Naiknya harga bahan bangunan ini menyebabkan pengembang rumah subsidi meminta kepada pemerintah agar harga jual rumah disesuaikan. Alasannya harga jual ini tidak relevan dengan biaya pembangunannya.
"Udah banyak yang teriak naik karena peningkatannya itu sekitar 20 persen di bangunan saja," imbuhnya.
Endang mengungkapkan jika terjadi kenaikan harga rumah subsidi, kemungkinan bisa naik sekitar 10 persen dari harga saat ini. Namun, pemerintah belum memberikan lampu hijau terhadap permintaan ini.
"Ya menurut saya sih minimal 10% lah. Untuk menjaga profit marginnya. Dan tanahnya naik tapi kan mungkin tidak signifikan. Yang signifikan naiknya di bangunan," ujarnya.
Namun, apabila tidak ada kenaikan harga rumah subsidi juga khawatirnya pengembang kabur beralih membangun rumah komersial karena keuntungannya yang tipis. Hal ini dapat menyebabkan target ketersediaan rumah subsidi di pasaran jadi terhambat.
Ketika ditanya apakah ada solusi selain menaikkan harga, Endang merasa pengembang mungkin akan memilih mengurangi ukuran rumah atau bahkan buruknya menurunkan kualitas bangunannya.
"Nanti arahnya yang satu ngecilin unit, size, ukuran. Jadi kayak tukang jual tahu kan, harga kedelai naik. (Kualitas nggak terpengaruh kan?) Kemungkinan itu juga terjadi," tuturnya.
(aqi/das)











































