Industri keramik Indonesia sedang menghadapi tekanan berat akibat gangguan pasokan gas dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kondisi itu membuat biaya produksi keramik semakin mahal.
Ketua Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto mengatakan daya saing industri semakin tergerus akibat lonjakan biaya energi. Penurunan alokasi gas industri tertentu (AGIT) menjadi faktor utama yang memperparah kondisi.
Ia mencontohkan di wilayah Jawa Bagian Barat realisasi AGIT pada April 2026 hanya mencapai 37,5 persen. Angka itu merupakan yang terendah sejak kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) diberlakukan pada 2021.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Situasi ini berdampak langsung pada lonjakan biaya energi. Saat ini, harga gas yang harus ditanggung industri keramik mencapai kisaran 11,5 hingga 12 dolar AS per MMBTU, atau melonjak lebih dari 60 persen dibandingkan harga HGBT yang ditetapkan sebesar 7 dolar AS per MMBTU," kata Edy dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (6/5/2026).
Padahal, komponen energi gas menyumbang porsi terbesar dalam biaya produksi industri keramik. Energi gas berkontribusi sekitar 35-38 persen biaya produksi.
Selain itu, pelemahan rupiah semakin membebani pelaku industri karena transaksi pembayaran gas masih menggunakan dolar AS. Hal ini memperbesar beban biaya.
"Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, industri menghadapi kenaikan biaya produksi sekaligus kerugian akibat kurs," ujarnya.
Dibanding negara tetangga, posisi Indonesia semakin tertekan. Harga gas industri di Malaysia dan Thailand diketahui berada di kisaran 9,5 hingga 9,9 dolar AS per MMBTU, lebih rendah dari yang saat ini dibayar industri dalam negeri.
Oleh karena itu, ASAKI mendesak pemerintah, khususnya Kementerian ESDM, SKK Migas, untuk segera mengambil langkah konkret. ASAKI mengharapkan solusi cepat untuk menjamin pasokan gas agar industri tidak kolaps dan terhindar dari potensi pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kemudian, ASAKI mendorong penerapan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) gas untuk sektor manufaktur nasional. Mereka juga mengusulkan agar pembayaran gas dapat dilakukan dalam mata uang rupiah buat mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.
Menurutnya, ketahanan energi menjadi kunci utama untuk menjaga keberlangsungan dan pertumbuhan industri keramik nasional. Tanpa intervensi cepat dan kebijakan yang tepat, industri keramik Indonesia bisa saja kehilangan daya saing di pasar global.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
(dhw/dhw)











































