Penjahat seksual Jeffrey Epstein punya koneksi dengan sejumlah orang berpengaruh di Timur Tengah. Relasi itu dimanfaatkan buat mengumpulkan artefak yang kabarnya digunakan untuk mendekorasi sebuah bangunan mirip masjid di pulau pribadinya Little Saint James.
Dilansir dari NDTV, New York Times melaporkan Epstein mengumpulkan artefak Islam langka untuk menghiasi bangunan yang tidak biasa di pulau itu. Bahkan, ia berhasil mendapatkan kain dari Ka'bah.
Koleksi Epstein beragam, mulai dari kain yang disulam dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang dikirim dari Ka'bah di Mekah serta ubin dari sebuah masjid di Uzbekistan. Lalu, sebuah kubah emas dibangun untuk meniru arsitektur Suriah kuno.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokumen Epstein yang dirilis Januari lalu menunjukkan bagaimana Epstein mendapatkan koleksi seni lewat koneksinya.
Bangunan mirip masjid di pulau Jeffrey Epstein. Foto: US Department of Justice via Independent |
Epstein disebut terobsesi mendekorasi bangunan biru-putih serta berkubah emas di Little Saint James. Bangunan itu dideskripsikan sebagai ruang musik, pavilun, kapel, bahkan kuil. Namun, bagi Epstein yang merupakan seorang Yahudi sekuler, itu adalah 'masjid'.
Dia pernah mengatakan kepada Vanity Fair pada 2003 silam bahwa dirinya mempunyai "karpet Persia terbesar yang pernah Anda lihat di rumah pribadi - sangat besar, pasti berasal dari sebuah masjid."
Menurut New York Times, pesan antara Epstein dan rekan-rekannya menunjukkan dirinya mempekerjakan arsitek untuk merancang 'hammam', yakni sebuah pemandian Turki yang dikelilingi oleh 'taman Islami'. Setelah itu, ia berubah pikiran untuk membuat ruang musik yang disebut 5 Palms. Ia pun mengirimkan inspirasi desain masjid kuno di Timur Tengah.
Selain itu, ia sempat berkomunikasi dengan seseorang di Uzbekistan. Ia membahas ubin yang katanya 'ini akan digunakan untuk dinding bagian dalam, seperti sebuah masjid'.
Seorang seniman Rumania yang dipekerjakan untuk proyek tersebut, Ion Nicola, mengatakan Epstein menyebut bangunan itu sebagai 'masjid'. Lalu, Epstein minta untuk mengganti kata Arab Tuhan dengan inisialnya.
"Ingat, kita melihat tulisan Arab itu berwarna hitam putih. Bukannya Allah, saya malah berpikir huruf j dan e," tulis Epstein dalam sebuah email kepada Nicola.
Pada 2010, Epstein membangun hubungan dekat dengan Terje Rod-Larsen, seorang diplomat yang turut membantu wujudkan rencana pembangunan masjid. Rod-Larsen memperkenalkan Epstein kepada Raafat Al-Sabbagh, seorang konsultan untuk istana kerajaan Saudi, bersama dengan rekannya Aziza Al Ahmadi.
Pada awal 2017, Epstein dan Al Ahmadi bertemu di New York sementara para ajudan mereka mengoordinasikan pengiriman dari Arab Saudi ke pulau pribadinya. Di antara barang-barang yang dibahas adalah sebuah tenda serta lebih banyak barang yang dikatakan sedang dalam perjalanan 'untuk masjid'.
"Kami menerima tiga buah dari Ka'bah," kata asisten Epstein kepada seorang petugas bea cukai.
Beberapa di antaranya berupa kain kiswa yang semula berfungsi untuk melapisi interior dan eksterior Ka'bah.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
(dhw/das)











































