Jurus Ini Bisa Bikin Gedung Pencakar Langit Tetap Adem Tanpa Boros Listrik

Jurus Ini Bisa Bikin Gedung Pencakar Langit Tetap Adem Tanpa Boros Listrik

Zulfi Suhendra - detikProperti
Senin, 04 Mei 2026 18:01 WIB
Gedung perkantoran bertingkat. dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Di negara tropis seperti Indonesia, menjaga suhu ruang tetap nyaman dan adem menjadi tantangan tersendiri. Terutama di gedung, upaya ini harus dibarengi dengan investasi yang tak sedikit. Pasalnya, pendingin udara atau air conditioner (AC) bisa menyumbang 40% sampai 60% konsumsi listrik di bangunan komersial seperti kantor, hotel hingga mal.

Oleh karena itu, ini menjadi cost yang besar bagi para pengelola gedung.

Di tengah tantangan tersebut, kini mulai muncul pendekatan baru yang lebih praktis dan efisien. Konsultan properti PT Colliers International Indonesia bersama PT Investasi Hijau Selaras (HIJAU) bekerja sama menghadirkan solusi pendinginan ruangan berbasis layanan atau yang disebut Cooling as a Service (CaaS). Sistem ini bisa menghemat biaya operasional karena pengelola tak harus repot menggelontorkan investasi besar di awal. edung tetap adem tanpa harus keluar investasi besar di awal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Managing Director Colliers Indonesia, Michael D. Broomell, mengatakan, pendekatan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan pasar yang selama ini terkendala biaya awal yang tinggi.

"Banyak pengelola gedung sebenarnya ingin meningkatkan efisiensi energi, tapi tertahan di biaya investasi awal. Model ini menghilangkan hambatan tersebut dan langsung fokus ke hasil," ujar Michael dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).

ADVERTISEMENT

Dia menjelaskan, skema ini memungkinkan semua proses proses mulai dari pembiayaan, instalasi, hingga operasional dan perawatan sistem pendingin ditangani oleh penyedia layanan. Pengelola gedung cukup membayar sesuai penggunaan, sehingga biaya yang sebelumnya besar di awal bisa diubah menjadi pengeluaran operasional yang lebih ringan dan terukur. Sederhananya, pengelola cukup membayar apa yang dipakai.

Senada, Head of Business Development HIJAU, Fahmi Rijal Fahmi, menilai pendekatan ini sangat relevan terutama untuk gedung-gedung lama yang masih menggunakan sistem pendingin kurang efisien.

"Gedung lama itu ibarat mobil tua-masih jalan, tapi boros. Dengan teknologi yang tepat, kita bisa bikin performanya jauh lebih efisien tanpa harus ganti semuanya dari nol," jelasnya.

Dia menambahkan, hal ini tak hanya berpengaruh pada penurunan biaya listrik, tetapi juga membantu menjaga kualitas layanan bagi tenant atau penghuni gedung. Berbagai studi menunjukkan bahwa optimalisasi sistem Heating, Ventilation, and Air Conditioning (HVAC) bahkan bisa menekan konsumsi energi hingga 10-50%.

Selain itu, pendekatan ini juga membantu perusahaan dalam mencapai target keberlanjutan. Dengan konsumsi listrik yang lebih rendah, emisi karbon tidak langsung dari penggunaan energi juga ikut berkurang. Hal ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya tuntutan standar ESG di sektor properti.

"Sekarang bukan lagi soal ikut tren hijau atau tidak, tapi bagaimana efisiensi energi bisa jadi bagian dari strategi bisnis," kata Fahmi.

Ditambahkan Fahmi, skema ini juga membuka peluang baru bagi pengelola gedung untuk meningkatkan performa aset tanpa harus mengganggu arus kas. Dengan risiko teknis yang ditanggung oleh penyedia layanan, pengelola bisa lebih fokus pada operasional utama.



(zlf/zlf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads