BBM Naik Kerek Harga Bahan Bangunan, Ini yang Paling Parah

BBM Naik Kerek Harga Bahan Bangunan, Ini yang Paling Parah

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Senin, 04 Mei 2026 14:15 WIB
Ilustrasi Bahan Bangunan
Ilustrasi Bahan Bangunan. Foto: Dok. Shutterstock
Jakarta -

Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis diesel non-subsidi di SPBU swasta naik drastis hingga menyentuh Rp 30 ribu per liter pada awal Mei 2026. Hal ini tidak hanya berdampak bagi pengguna mobil-mobil pribadi, kendaraan pengangkut bahan bangunan juga menanggung beban biaya yang besar.

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Bahan Bangunan Indonesia (IPBBI) Gomas Harun mengungkapkan kenaikan ongkos kirim bahan bangunan saat ini melonjak sekitar 15-20 persen.

"Sebagai contoh biaya ekspedisi kapal sudah naik antara 15-20 persen. Otomatis harga jual bahan bangunan naik. Daya beli pasar lesu," kata Gomas kepada detikcom pada Senin (4/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyebabnya bukan karena BBM saja, sudah sejak akhir Maret banyak bahan bangunan naik drastis di pasaran. Disusul dengan harga plastik dan LPG naik. Kemudian, kini biaya bahan bakar Diesel.

Gomas mengatakan kenaikan bahan bangunan saat ini bervariasi sekitar 20-40 persen. Bahan bangunan berbahan plastik mengalami lonjakan harga paling tinggi.

ADVERTISEMENT

"Di pasar kenaikan bahan bangunan bervariasi 20-40 persen. Bahan bangunan yang berhubungan dengan plastik (paling tinggi harganya)," ungkapnya.

Sementara itu, bahan bangunan non-plastik, seperti batu bata, semen, hingga pasir ikut terdampak dengan kenaikan 10-15 persen imbas kenaikan BBM.

"Tetap ada kenaikan. Karena Pengangkutannya kan tetap memakai kendaraan truk, sekitar 10-15 persen," ujarnya.

Saat ini pengusaha berusaha tetap melakukan produksi seperti biasa, meskipun harus menekan margin (selisih antara biaya produksi dan penjualan).

Asosiasi mengaku telah menerima banyak keluhan dari pemasok imbas kenaikan harga bahan bangunan akhir-akhir ini. Di sisi lain, mereka juga tengah bersiap mitigasi produk impor menguasai pasar di tengah kondisi bahan bangunan lokal sedang mahal.

Mereka berharap pemerintah bisa lebih cepat dan tegas mengatasi hal ini. Penghapusan bea masuk impor LPG dan beberapa bahan baku plastik menjadi 0 persen dinilai belum ampuh menstabilkan harga bahan bangunan. Dibutuhkan langkah lain yang lebih berdampak karena hanya tinggal menunggu waktu pabrik-pabrik bahan bangunan lokal tumbang jika kondisi masih seperti saat ini.

"Sudah banyak yang mengeluh kepada pemasok. Tapi pemasok seperti saya juga tidak bisa buat apa apa. Kita sekarang jualan hanya demi menutup biaya karyawan dan operasional pabrik. Belum lagi harga elpiji melonjak. Margin sudah kami tekan seimut mungkin. Kalau begini terus, prediksi bulan Juni akan banyak pabrik yang tutup," tuturnya.




(aqi/zlf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads