Saat menaiki lift di beberapa bangunan, kita mungkin tidak akan menemukan lantai 4. Setelah lantai 3, penomoran biasanya langsung beralih ke 3A sebagai pengganti angka tersebut atau bahkan langsung lompat ke angka 5.
Fenomena bangunan tanpa lantai 4 bukan sekadar keunikan arsitektur, melainkan berasal dari kepercayaan budaya yang kuat. Di banyak negara Asia Timur, angka 4 dianggap membawa kesialan hingga sengaja dihindari dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk desain gedung.
Hal ini disebut Tetraphobia, yang berarti ketakutan terhadap angka empat. Adalah satu contoh bagaimana budaya dapat mempengaruhi dunia konstruksi. Praktik ini tidak hanya terlihat pada penomoran lantai, tetapi juga pada alamat, nomor telepon, hingga strategi bisnis perusahaan besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Klarity Health, tetraphobia berasal dari kemiripan bunyi antara angka empat dengan kata 'kematian' dalam beberapa bahasa Asia Timur seperti Mandarin dan Jepang. Karena asosiasi negatif tersebut, angka 4 kerap dianggap sebagai simbol nasib buruk dan dihindari dalam kehidupan sehari-hari.
Kepercayaan terhadap angka bukan hal sepele dalam budaya Tiongkok. Angka diyakini memiliki pengaruh terhadap nasib, sehingga angka tertentu seperti 8 dianggap membawa keberuntungan, sementara angka 4 justru dihindari karena maknanya yang berkaitan dengan kematian.
Pengaruh Budaya dan Bahasa
Dilansir dari Klarity Health, asal-usul tetraphobia sangat berkaitan dengan linguistik. Dalam bahasa Mandarin, kata 'empat' atau 'shi' memiliki pelafalan yang sangat mirip dengan kata 'mati', sehingga menciptakan hubungan yang kuat antara angka tersebut dan kematian. Fenomena ini kemudian berkembang menjadi kepercayaan di tengah masyarakat.
Akibatnya, praktik penghindaran angka 4 menjadi hal umum di negara seperti Tiongkok, Jepang, Korea, hingga Taiwan. Dalam konteks bangunan, banyak developer mengganti lantai 4 dengan label seperti '3A' atau langsung melompat dari lantai 3 ke 5, demi menghindari persepsi negatif dari penghuni atau pembeli properti.
Dampak pada Dunia Properti
Melansir Global Security, pengaruh tetraphobia bahkan meluas hingga sektor properti dan komersial. Banyak produk properti, seperti apartemen dan perumahan, sengaja tidak menggunakan angka 4 dalam penomoran unit atau lantainya untuk menyesuaikan dengan preferensi pasar dan budaya Asia.
Selain itu, dalam dunia properti, penghindaran angka 4 menjadi strategi pemasaran yang cukup signifikan. Bangunan tanpa lantai 4 dianggap lebih 'menarik' bagi konsumen di wilayah tertentu. Bahkan, praktik ini juga ditemukan pada rumah sakit, hotel, dan fasilitas publik lainnya yang menghindari angka tersebut demi kenyamanan psikologis pengguna.
Fenomena tetraphobia menunjukkan bahwa keputusan dalam desain bangunan tidak selalu didasarkan pada fungsi teknis semata, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor budaya dan psikologis.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa kepercayaan masyarakat dapat membentuk desain arsitektur modern, termasuk keputusan sederhana seperti menghilangkan satu angka dari deretan lantai gedung.
(das/das)










































