Beberapa wilayah di Belanda tidak memiliki tanah yang kokoh karena sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Salah satu contohnya adalah Kota Rotterdam yang dulunya rawa berlumpur dan rawan banjir kini menjadi pusatnya gedung tinggi berarsitektur modern. Kok bisa?
Dilansir Arch Daily, kota ini berada di delta sungai Rhine dan Maas, area yang sebenarnya tidak pernah kering secara alami tetapi bisa kering dan dijaga struktur tanahnya agar tetap garing memakai teknologi hidrolik selama berabad-abad.
Belanda mengerahkan segalanya untuk membuat kota ini kering dan memiliki kehidupan di masa depan. Dibentuk sebuah badan pengelola air di wilayah ini. Badan ini termasuk badan tertua di dunia, yang dibentuk pada abad ke-13 dan masih beroperasi hingga saat ini. Tugasnya untuk mengurus masalah drainase dan hal berbau teknis lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memindahkan atau menyerap air merupakan satu dari sekian langkah yang dilakukan pemerintah Belanda di Kota Rotterdam. Setelah tidak ada air, bukan berarti tanah di wilayah tersebut kokoh dan aman untuk menahan beban berat.
Tanah tersebut tetap lunak karena sudah terlalu lama terendam. Pemerintah pun membuat permukaan tanahnya menjadi kering dan solid melalui kontrol teknis berkelanjutan dengan infrastruktur khusus yang dapat mencegah air masuk ke lingkungan yang tengah diawasi.
Bidang tanah didesain ulang untuk dapat menyerap, menyimpan, dan melepas air. Dalam kata lain Belanda bukan hanya menyerap dan memindahkan air tersebut, melainkan mengubah 'sifat' tanahnya agar bisa lebih ramah pada air dan infrastruktur yang ada di atasnya nanti.
Langkah lainnya adalah mereka memikirkan opsi mengenai membangun rumah mengapung sehingga tidak perlu khawatir pada kondisi tanah. Hal ini benar-benar diwujudkan. Di tengah kota terbesar kedua di Belanda itu, terdapat sederet bangunan yang halamannya adalah air dan kendaraannya adalah perahu. Ukuran area ini tidak besar tetapi tetap unik dilihat karena benar-benar beradaptasi dengan kondisi lingkungannya.
Setelah kondisi tanah cukup solid, baru satu per satu bangunan dibangun. Konstruksi di sana mengandalkan sistem fondasi dalam, kondisi tanah yang terkontrol, dan kepadatan tanah di lahan yang secara historis jenuh air untuk mendukung konstruksi skala besar.
Lanskap kotanya pun tidak dibuat asal-asalan. Setiap bangunan memiliki area terbuka dengan bentuk tanah khusus untuk larinya air, terutama saat hujan. Bentuknya berupa tanah cekungan bertingkat.
Salah satunya adalah alun-alun air yang area terbuka bisa menampung 1,7 juta liter air hujan selama badai besar. Ketika curah hujan melebihi kapasitas sistem saluran pembuangan di sekitarnya, air dialirkan ke cekungan dan mengisinya secara berurutan.
Bukan cuma tanahnya yang dipikirkan, Atap bangunannya pun dibuat agar dapat menahan air hujan. Lalu, permukaan diaspal agar dapat infiltrasi atau menyerap air melalui pori-pori, dan sistem aliran air ke saluran yang ditanami pepohonan.
Bahkan mereka memiliki gerbang penghambat banjir raksasa di kota ini bernama Maeslantkering yang sudah berhasil melindungi 2 badai besar di kota tersebut.
(aqi/das)
