Sektor perkantoran pada kuartal pertama 2026 tidak jauh berbeda dengan kondisi setelah Covid-19. Saat ini permintaan sudah meningkat, tetapi untuk stok ruang kantor belum ada pertambahan karena stok di pasar sudah banyak.
"Tingkat okupansi (keterisian) sih memang masih terbatas sehingga pemulihannya masih berjalan bertahap. Kemudian dari sisi tenant atau penyewa kini lebih fokus pada efisiensi ruang dan kualitas gedung. Sementara kenaikan sewa mulai terlihat secara tipis di aset dengan performa yang baik," kata Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto dalam Colliers Virtual Media Briefing Q1 2026 pada Rabu (8/4/2026).
Kondisi saat ini sebenarnya sudah cukup baik dibandingkan pada saat Covid-19 di mana banyak kantor 'berhantu' atau kosong karena tidak ada penyewa imbas kebijakan semua work from home (WFH).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, tentu ini bukan kondisi yang optimal. Ferry mengatakan butuh 2-3 tahun sektor perkantoran Jakarta bisa kembali ke kondisi seperti sebelum Covid-19.
"Kalau ditanya kapan pulih, menurut analisa kami, kita lihat ini masih butuh waktu sekitar 2-3 tahun ke depan untuk balik ke level sebelum pandemi," sebutnya.
Perhitungan Colliers ini berdasarkan faktor proyeksi ekonomi yang diharapkan lebih baik ke depannya, faktor stok ruang kantor semakin sedikit dalam 3 tahun ke depan sehingga bisa menambah ruang kantor baru, dan harapan dalam 3 tahun ke depan ruang kantor yang ada benar-benar laku.
Ferry menyampaikan tahun ini dan tahun depan dipastikan tidak ada ruang kantor baru tersedia. Ruang kantor baru akan muncul pada 2028, yakni Sudirman Two di Sudirman.
"Sekarang sedang dalam tahap konstruksi, dan juga dilanjut Gedung Indonesia I yang tahun 2029 yang ukurannya memang lebih kecil dari perkiraan semula karena sebagian ruangannya itu dialihfungsikan menjadi apartemen," ungkapnya.
Ia menyebut saat ini sektor perkantoran tengah di masa menuju fase pemulihan. Di mana ruang kantor sudah mulai kembali dihuni terutama ruang kantor premium di kawasan Central Business District (CBD). Namun, masih ada 3 juta meter persegi ruang kantor kosong di Jakarta. Didominasi ruang kantor kelas A sekitar 36 persen, kelas B sekitar 36 persen, kelas C sebanyak 23 persen, dan stoknya paling terbatas adalah kantor kelas premium yang hanya tersisa 5 persen.
Sementara ruang kantor yang terserap hingga kuartal I 2026 ini mencapai lebih dari setengah pasokan yang ada di Jakarta.
(aqi/das)










































