Paris sebentar lagi akan memiliki gedung pencakar langit baru. Namun, gedung ini justru mendapat banyak kecaman dari sejumlah warga hingga komunitas lokal.
Gedung baru itu adalah Tour Triangle yang terletak di jantung kota Paris. Jaraknya hanya 4,5 kilometer dari Menara Eiffel yang terkenal sebagai simbol romantisme dan ikon Prancis.
Dilansir dari Daily Express, dinamai 'Tour Triangle' karena gedung ini punya fasad yang berbentuk segitiga. Sekilas, desain gedung ini mirip seperti Museum Louvre, hanya saja dalam versi yang lebih besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proyek gedung Tour Triangle digarap oleh kontraktor ternama asal Belgia, BESIX. Sementara desain bangunannya dirancang oleh Herzog & De Meuron, firma arsitek ternama yang merancang berbagai bangunan ikonik, seperti Beijing Stadium yang terkenal karena desainnya seperti sarang burung.
Konstruksi telah dimulai sejak 2021 dan ditargetkan selesai pada paruh kedua tahun ini. Jika rampung sesuai jadwal, bangunan setinggi 180 meter itu akan terlihat menonjol di Paris karena kota ini minim gedung pencakar langit.
Menariknya, bangunan ini hanya memiliki lebar sekitar 35 meter saja. Namun, di dalamnya terdapat berbagai fasilitas termasuk ruang kantor, hotel, area ritel, pusat kebudayaan, klinik, dan play ground untuk anak-anak.
Selain itu, ada juga dek observasi (obeservation deck) dan restoran mewah di lantai paling atas. Nantinya warga lokal maupun turis mancanegara dapat melihat panorama ibu kota Prancis yang indah dari ketinggian lebih dari 100 meter.
Proyek Gedung Segitiga yang Banyak Dikecam Warga
Tour Triangle sedang dibangun. Foto: Wikimedia Commons/CCA 4.0/Vincevinss |
Sayangnya, proyek gedung ini tidak berjalan mulus. Saat akan dimulai pembangunan, sempat ada protes dari sejumlah organisasi dan masyarakat Paris, salah satunya datang dari Collectif Contre La Tour Triangle atau Kolektif Penentang Menara Segitiga.
Mereka berpendapat jika bangunan tersebut bertentangan dengan etos keberlanjutan Paris. Mereka menilai gedung dengan fasad kaca itu dapat menyerap energi yang besar serta mengganggu cakrawala Paris yang indah.
"Bagaimana Anda dapat membenarkan pembangunan gedung yang terbuat dari kaca dan baja, yang membutuhkan energi dalam jumlah besar, dengan luas 70.000 meter persegi ruang kantor, di Paris yang mana kota ini sudah penuh sesak dengan kantor?" demikian bunyi pernyataan Collectif Contre La Tour Triangle pada 2021.
Mendapat protes dari sejumlah elemen masyarakat, pembangunan Tour Triangle juga sempat ditunda sekitar 12 tahun. Selain karena penggunaan material yang dinilai boros energi, mereka juga terlilit masalah hukum soal perencanaan dan pembangunan gedung bertingkat di Paris.
Saat proyek akan dimulai, pemerintah berencana menetapkan kembali aturan lama soal batas ketinggian bangunan baru di Paris yang maksimal mencapai 37 meter. Alhasil, proyek Tour Triangle tidak bisa dilaksanakan karena melanggar aturan.
Namun, pemerintah akhirnya membatalkan aturan itu pada 2010, sehingga memungkinkan pengajuan rencana baru untuk membangun gedung pencakar langit di Paris.
Proyek Tour Triangle akhirnya terbentur masalah lagi pada 2021 karena sejumlah anggota dewan kota Paris menolaknya. Dewan kota lalu melakukan pemungutan suara dan hasilnya pembangunan gedung segitiga ini mendapat restu dari dewan kota.
Pihak kontraktor juga mengganti bahan material yang digunakan, dari yang semula boros energi kini memakai bahan daur ulang yang ramah lingkungan. Salah satunya diterapkan pada fasad aluminium gedung.
Selain itu, Tour Triangle juga mengusung konsep green building dengan mengusung konsep keberlanjutan (sustainability), termasuk sistem energi panas bumi, fasad berlapis ganda, dan panel fotovoltaik yang dapat mengubah energi cahaya matahari menjadi listrik.
Apabila selesai dibangun tahun ini, Tour Triangle akan menjadi satu-satunya gedung pencakar langit di Paris yang bisa dikunjungi. Sebelumnya sudah ada Menara Montparnasse yang setinggi 210 meter, tapi saat ini telah ditutup karena akan direnovasi besar-besaran.
(ilf/das)











































