Bagi Putra (41), Jalan Tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi) bukan lagi sekadar jalan bebas hambatan yang menghubungkan Jakarta dan Bogor. Jalan tol sepanjang 59 kilometer ini justru menjadi salah satu faktor penting dalam keputusan besarnya memilih lokasi hunian.
Jalan tol pertama di Indonesia yang mulai beroperasi sejak 1978 tersebut telah menemani berbagai fase kehidupannya, mulai dari masa bekerja di Jakarta hingga membangun kehidupan keluarga. Keberadaan akses tol yang memadai menjadi alasan utama Putra membeli sebidang lahan di kawasan Tapos, Depok, pada tahun 2016 dan kemudian membangun rumah di sana hingga berumah tangga sampai sekarang.
Pada saat itu kawasan tersebut masih tergolong pinggiran, namun Putra menilai potensi pertumbuhan wilayahnya cukup besar karena didukung aksesibilitas yang baik menuju Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu alasan utama saya memilih tinggal di Depok karena akses Jagorawi memudahkan perjalanan ke Jakarta. Sekarang malah semakin lengkap karena ada LRT dan transportasi umum lainnya yang membuat mobilitas jadi lebih praktis," tutur Putra saat berbincang dengan detikcom.
Pengalaman Putra menggambarkan bagaimana akses infrastruktur transportasi menjadi faktor penting dalam perkembangan kawasan hunian di wilayah penyangga ibu kota. Akses tol yang baik tidak hanya mempersingkat waktu tempuh menuju pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga meningkatkan daya tarik kawasan bagi masyarakat yang ingin tinggal di luar pusat kota.
Perkembangan ini tidak terlepas dari peran Jalan Tol Jagorawi sebagai salah satu koridor mobilitas utama di kawasan metropolitan Jabodetabek. Sejak diresmikan pada 1978, tol yang menghubungkan Jakarta, Bogor, dan Ciawi ini telah menjadi tulang punggung konektivitas wilayah, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan penyangga seperti Depok dan Bogor.
Seiring pertumbuhan kawasan metropolitan Jabodetabek, peran Jagorawi pun semakin vital. Jalan tol ini menjadi salah satu jalur utama mobilitas harian bagi masyarakat yang bekerja di Jakarta tetapi memilih tinggal di wilayah penyangga yang menawarkan ruang hunian lebih luas.
Ilustrasi perumahan di Depok Foto: dok. istimewa (via Vista Land Group) |
Selain mempermudah mobilitas masyarakat, keberadaan jalan tol juga turut mendorong perkembangan kawasan ekonomi dan properti di sepanjang koridor tersebut. Berbagai kawasan permukiman, pusat komersial, hingga fasilitas publik berkembang mengikuti peningkatan aksesibilitas wilayah.
Perkembangan tersebut semakin diperkuat dengan hadirnya moda transportasi publik modern yang terintegrasi dengan koridor jalan tol, salah satunya melalui operasional Lintas Raya Terpadu Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (LRT Jabodebek).
Transformasi kawasan juga semakin terlihat dengan hadirnya Travoy Hub Taman Mini yang dikembangkan oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk melalui PT Jasamarga Related Business (JMRB). Kawasan ini resmi beroperasi bersamaan dengan peresmian LRT Jabodebek oleh Presiden Joko Widodo pada 28 Agustus 2023.
Travoy Hub merupakan pengembangan Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) yang mengusung konsep Transit-Oriented Development (TOD) pertama di Indonesia yang terintegrasi langsung dengan jalan tol. Di kawasan ini, Stasiun LRT Taman Mini dipadukan dengan pusat bisnis serta area berkumpul masyarakat.
Konsep tersebut menjadikan Travoy Hub sebagai titik interkoneksi berbagai moda transportasi, mulai dari LRT Jabodebek, bus TransJakarta, Jak Lingko, hingga akses langsung bagi pengguna jalan tol. Integrasi ini tidak hanya memudahkan mobilitas masyarakat, tetapi juga membuka potensi aktivitas ekonomi baru di kawasan sekitarnya.
Direktur Bisnis Koridor Jalan Tol PT Jasamarga Related Business (JMRB) Bayu Nurbaya mengatakan, Travoy Hub juga dirancang sebagai pusat aktivitas baru bagi masyarakat di kawasan Jakarta Timur.
"Travoy Hub dapat menjadi pusat meeting dan gathering baru di kawasan Jakarta Timur, karena akan dilengkapi oleh sejumlah tenant food and beverage, banking, salon, retail, farmasi, dan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan pengguna komuter dan masyarakat umum. Kami juga mendukung program pemerintah dalam memberdayakan UMKM, sehingga para pelaku UMKM akan diakomodir dengan disediakan sejumlah lokasi usaha di Travoy Hub," ujar Bayu.
Selain menjadi simpul transportasi, Travoy Hub juga dikembangkan sebagai pusat aktivitas masyarakat yang melayani kebutuhan komuter maupun pengunjung umum. Kehadiran berbagai fasilitas komersial tersebut diharapkan dapat memperkuat fungsi kawasan sebagai titik pertemuan sekaligus pusat kegiatan baru di sekitar koridor Jagorawi.
Ke depan, kawasan ini juga akan dikembangkan lebih lanjut melalui tahap kedua yang mencakup area komersial dengan konsep ruang terbuka serta fasilitas publik seperti rumah sakit dan ruang terbuka hijau.
Kehadiran kawasan berbasis Transit-Oriented Development seperti Travoy Hub memperlihatkan perubahan peran jalan tol dalam pengembangan wilayah. Infrastruktur jalan tol kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai jalur kendaraan, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan kawasan yang terintegrasi dengan transportasi massal dan aktivitas ekonomi.
Travoy Hub Foto: Dok. Jasa Marga |
Konsep pengembangan koridor transportasi terintegrasi seperti ini juga mulai diterapkan di sejumlah ruas lain yang dikelola Jasa Marga, termasuk pada koridor Jalan Tol Jakarta-Cikampek. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur transportasi memiliki peran penting dalam membentuk pola perkembangan kawasan perkotaan, termasuk sektor properti.
Di sisi lain, Head of Research & Consultancy PT Leads Property Service Indonesia, Martin Hutapea mengamini bahwa aksesibilitas jalan tol merupakan salah satu komponen yang penting bagi perumahan. Oleh karena itu infrastruktur ini menjadi perhatian utama bagi pengembang yang ingin membuat proyek perumahan.
"Khususnya di masa modern ini seiring dengan tetap macetnya jalanan, meskipun sudah ada KRL, MRT dan LRT. Salah satu nilai tambah dari sebuah proyek Pengembangan rumah adalah akses ke jalan tol terdekat. Pembeli rumah pada umumnya menggunakan akses jalan tol untuk mencapai tempat kerja dan pulang kembali ke rumah, khususnya bila jarak tempuhnya jauh," terangnya.
Martin menilai tol Jagorawi justru memegang peranan penting bagi perumahan di sekitarnya. Apa lagi di wilayah tersebut tol Jagorawi menjadi akses jalan yang paling lebar di banding jalan-jalan raya di sekitar jalur Jagorawi.
"Salah satu jalan penting yang searah adalah Jalan Raya Bogor tetapi termasuk sempit dan juga macet. Kecuali akses ke Jalna Tol Jagorawi dianggap "nanggung" sehingga pengendara lebih memilih jalan Raya Bogor. Tetapi pengendara yang berasal dari perumahan di sekitar tol Jagorawi, lebih memilih tol ini untuk operasional mereka, khususnya ke Jakarta dan Bekasi," tambahnya.
Perkembangan permukiman di sekitar Tol Jagorawi patut diakui sangat cepat. Menurut Martin setidaknya daerah yang cukup dekat dengan tol sudah sangat padat karena telah dikembangkan sejak tahun 1990-an.
Sayangnya menurut Martin tidak banyak lahan-lahan di sekitar Tol Jagorawi yang relevan untuk dikembangkan perumahan, dengan asumsi di atas lahan peruntukan hunian. Namun perkembangan permukiman di sekitar Jalan Tol Jagorawi beberapa tahun terakhir mengarah ke kawasan Sentul dan ke bagian selatannya.
"Dengan kondisi di atas, bila konteksnya persis di pinggir tol, perkembangannya akan lebih lambat karena lahan sisa untuk dikembangkan juga terbatas, sementara yang dalam jangkauan tertentu (Misalkan 10- 15 menit dari tol), masih berpotensi bertumbuh lebih cepat karena masih ada lahan yang cukup luas untuk dikembangkan," tutupnya.
Dari awal kehadirannya sebagai jalan tol pertama di Indonesia hingga kini menjadi bagian dari sistem mobilitas terintegrasi, Jagorawi terus bertransformasi mengikuti kebutuhan masyarakat. Bagi banyak orang seperti Putra, keberadaan akses tol dan transportasi publik yang terhubung langsung dengan kawasan hunian menjadi pertimbangan utama dalam memilih tempat tinggal di wilayah penyangga ibu kota.
(das/das)












































