Lonjakan harga properti di Eropa membuat generasi muda menghadapi krisis perumahan yang makin serius. Banyak dari mereka kini mencari cara tak biasa untuk bisa memiliki tempat tinggal, bahkan dengan ramai tren kamar dan rumah dijual terpisah.
Dilansir dari The Economic Times, generasi muda di Eropa menghadapi krisis perumahan karena harga rumah meningkat jauh lebih cepat dibandingkan pendapatan mereka. Kondisi ini memaksa banyak orang mencari alternatif hunian yang lebih terjangkau, termasuk hanya membeli kamar dari sebuah rumah.
Tak hanya itu, sejumlah perusahaan rintisan mulai menawarkan solusi unik untuk membantu generasi muda di sana memiliki tempat tinggal. Beberapa di antaranya menyediakan skema pembelian rumah patungan bersama teman, hingga investasi kepemilikan sebagian properti sewaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena ini menunjukkan bagaimana generasi muda di Eropa harus mencari cara baru untuk menghadapi harga properti yang makin sulit dijangkau. Banyak dari mereka akhirnya bersedia mencoba cara tinggal yang tidak biasa, asalkan tetap bisa memiliki tempat tinggal sendiri.
Dalam satu dekade terakhir, harga rumah di Uni Eropa meningkat sekitar 10% lebih cepat dibandingkan pendapatan masyarakatnya. Dampak dari kondisi ini paling dirasakan oleh kelompok usia muda yang baru memasuki dunia kerja atau ingin membeli rumah pertama.
Salah satu contoh datang dari perusahaan rintisan di Spanyol yang menawarkan kamar di hunian bersama dengan harga hingga β¬ 80.000 atau Rp 156 juta (kurs Rp 19.600). Harga tersebut bahkan disebut setara dengan sepertiga harga apartemen satu kamar tidur di lokasi yang sama.
Perusahaan tersebut bahkan mengaku telah menjual sekitar 200 kamar dalam setahun terakhir dan memiliki daftar tunggu hingga 32 ribu orang. Hunian yang ditawarkan tersebar di tujuh kota besar di Spanyol.
Pendiri sekaligus CEO perusahaan tersebut, Oriol Valls, mengatakan tren ini muncul karena tekanan ekonomi sekaligus perubahan gaya hidup masyarakat modern. Data resmi menunjukkan gaji bulanan rata-rata di Spanyol hanya naik 26% dalam satu dekade, sementara harga properti melonjak hingga 81%.
"Mereka membutuhkan ruang hidup yang jauh lebih kecil dan juga jauh lebih terjangkau," ujar Valls, dikutip dari The Economic Times.
Calon pembeli kamar juga harus melalui proses seleksi, salah satunya dengan mengisi kuesioner tentang kebiasaan hidup sehari-hari untuk melihat apakah mereka cocok tinggal bersama orang lain. Cara ini dibuat agar para penghuni yang tinggal bersama tetap merasa nyaman meskipun berbagi hunian dengan orang asing.
Di Inggris, tren serupa juga muncul melalui program pembelian rumah bersama teman. Salah satu pengembang properti bahkan membantu menghubungkan calon pembeli dengan broker serta pengacara untuk memudahkan proses pembelian properti secara patungan.
Sejumlah bank di Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia juga menawarkan hipotek dengan uang muka rendah atau bahkan tanpa uang muka. Meski biaya yang dikenakan lebih tinggi, skema ini menjadi salah satu opsi bagi generasi muda yang ingin memiliki rumah namun kesulitan menabung untuk uang muka.
Tren ini menunjukkan betapa sulitnya kondisi pasar properti bagi generasi muda di Eropa. Banyak calon pembeli rumah pertama akhirnya harus menerima skema yang tidak umum demi bisa mendapatkan tempat tinggal di tengah harga rumah yang terus melonjak.
(das/das)










































