Sugianto tidak menyangka getaran ponsel di saku jaket hijaunya pagi itu akan mengubah jalan hidup keluarganya. Ia sempat terpaku membaca notifikasi di ponsel berisi undangan program KPR khusus hasil kolaborasi PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo).
Pria yang akrab disapa Baba Luke ini segera mengonfirmasi kabar tersebut kepada istri dan rekan sesama ojek online untuk memastikan keasliannya. Meski sempat khawatir akan penipuan, ia tak ingin membuang kesempatan mewujudkan impian memiliki rumah sendiri yang sudah lama dinanti.
"Saya kaget juga, lagi di jalan tiba-tiba dapat undangan di aplikasi Gojek, sementara teman-teman lain tidak dapat. Akhirnya istri meyakinkan saya untuk mencoba saja, siapa tahu memang sudah rezeki," kenangnya kepada detikcom baru-baru ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah memantapkan niat, Luke segera mengisi formulir pendaftaran tersebut untuk diserahkan kepada pihak Gojek. Langkah selanjutnya, ia diminta melengkapi berkas pengajuan kredit melalui program KPR BTN Sejahtera untuk diproses lebih lanjut.
KPR BTN Sejahtera merupakan program pemerintah yang menawarkan suku bunga rendah dan cicilan ringan bagi keluarga Indonesia. Di sini, BTN berperan krusial dalam menyalurkan subsidi pemerintah (FLPP) agar tepat sasaran bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang selama ini sulit mengakses perbankan.
Berdasarkan pengalaman Luke, persyaratan untuk mengikuti program ini tergolong mudah dan tidak seribet yang dibayangkan. BTN menyederhanakan birokrasi agar masyarakat sektor informal dapat memenuhi syarat utama dan administratif dengan pendampingan yang intensif.
Syarat utamanya meliputi status WNI dengan usia minimal 21 tahun, usia maksimal 65 tahun saat jatuh tempo kredit, sudah menikah, serta batasan penghasilan maksimal Rp 14 juta (untuk yang sudah menikah) bagi masyarakat Zona 4 yang mencakup wilayah Jabodetabek.
Selain itu, kriteria lain yang harus dipenuhi adalah pemohon beserta pasangan belum memiliki rumah pribadi dan belum pernah menerima subsidi perumahan dari pemerintah. Secara administratif, pemohon wajib memiliki NPWP, melaporkan SPT PPh orang pribadi, serta memastikan NIK terdaftar di Dukcapil dengan melampirkan dokumen pendukung seperti KTP, KK, buku nikah/akta cerai.
Selain dokumen identitas, Luke juga harus melampirkan surat keterangan penghasilan atau slip gaji yang dikonfirmasi melalui histori pendapatan di aplikasi Gojek miliknya. Melalui kerja sama strategis ini, BTN mampu memvalidasi data mitra driver untuk memberikan kepastian kredit bagi pekerja dengan penghasilan harian tidak tetap.
Setelah semua berkas dinyatakan lengkap, kata Luke, tinggal menunggu proses verifikasi akhir dan akad kredit yang dijadwalkan dalam waktu dekat. Setelah akad, kunci rumah impian pun bisa digenggam serta rumah bisa segera ditempati.
Kerja Keras Tak Mengkhianati Hasil
Luke bercerita bahwa ia telah menekuni pekerjaan sebagai pengemudi ojek daring sejak 2017. Awalnya, pekerjaan ini hanya sekadar sampingan di sela kesibukannya bekerja serabutan sebagai buruh pabrik, Anak Buah Kapal (ABK), hingga pegawai restoran cepat saji.
Namun, pada 2019, ia memutuskan untuk fokus sepenuhnya menjadi mitra ojek daring. Sebagai pengemudi ojol, ia harus mendedikasikan waktunya sejak subuh hingga larut malam di jalanan.
"Setiap hari saya harus kuat. Usai salat subuh, saya sudah mulai mengantar pekerja, anak sekolah, pesanan makanan, hingga paket barang. Semua saya jalani asalkan halal," ungkapnya.
Semua pengorbanan ini ia lakukan semata-mata demi kesejahteraan keluarga. Pria asal Bogor ini bahkan rela menempuh jarak jauh hingga ke wilayah Jakarta dan Bekasi demi mendapatkan jumlah pesanan yang maksimal.
"Satu hal yang selalu ada di pikiran saya adalah istri dan anak tidak boleh lapar esok hari. Karena hidup saya di jalanan, jarak tempuh harian saya sering kali mencapai 200 kilometer," tambahnya.
Luke menuturkan bahwa pendapatannya kala itu tergolong stabil. Berkat tingginya permintaan layanan antar-jemput penumpang, ia mampu mengantongi penghasilan kotor hingga Rp700 ribu dalam sehari.
"Saat narik di Jakarta, penghasilan cukup stabil di angka Rp600-700 ribu, minimal Rp500 ribu per hari. Jika dapat Rp700 ribu, penghasilan bersihnya sekitar Rp550 ribu setelah dipotong biaya bensin. Itu hasil kerja dari jam 6 pagi sampai jam 7 malam," jelasnya.
Kala itu, Luke masih menetap di sebuah rumah kontrakan di wilayah Parung, Bogor, bersama istri dan kedua anaknya. Ia mengenang kondisi hunian tersebut yang sangat pengap akibat minimnya sistem ventilasi.
"Dulu kami tinggal di kontrakan yang sempit. Jika hujan turun, ember-ember harus berjejer di lantai untuk menampung bocor. Udaranya pengap dan menyesakkan karena tidak ada ventilasi. Anak-anak sulit tidur, bahkan untuk bermain pun mereka tidak nyaman," tuturnya.
Sebelumnya, Luke tidak pernah terpikir untuk mengambil rumah secara mandiri. Ia menyadari bahwa bekerja di sektor informal tanpa upah tetap sering kali menjadi kendala besar saat berhadapan dengan persyaratan administrasi perbankan.
Namun, kerja kerasnya di jalanan akhirnya membuahkan hasil manis. Melalui inisiatif BTN yang menjembatani platform digital seperti Gojek, produktivitasnya sebagai mitra driver kini diakui sebagai dasar kelayakan untuk memiliki hunian yang berkualitas.
"Berkat program rumah subsidi ini, saya akhirnya bisa memiliki rumah sendiri. Kunci rumah yang dulu terasa mustahil bagi saya, kini sudah di tangan. Rasanya seperti mimpi, tetapi ini nyata," ungkapnya haru.
Ia sempat mendapatkan tawaran lokasi perumahan di Bogor dan Solo. Namun, ia akhirnya memilih untuk menetap di kawasan Graha Arraya, Bogor, pada akhir 2024 lalu.
Luke mengaku sangat terbantu oleh kemudahan skema cicilan melalui KPR khusus dari BTN ini. Ia hanya perlu menyisihkan saldo sebesar Rp50 ribu setiap hari melalui aplikasi Gojek.
Saldo harian tersebut kemudian diakumulasi untuk disetorkan ke BTN setiap awal bulan. Secara total, ia membayar cicilan sebesar Rp1,4 juta per bulan dengan suku bunga tetap (fixed) selama tenor 15 tahun.
Menjembatani Masyarakat Miliki Rumah
Luke mungkin jadi salah satu pekerja informal yang beruntung memiliki kesempatan mengikuti program KPR BTN Sejahtera. Sebab, berdasarkan data Badan Pusat Stastik (BPS) angka backlog atau kekurangan rumah pada 2025 telah mencapai 15 juta unit, meningkat dari 9,9 juta unit pada 2023.
Di sisi lain, struktur tenaga kerja Indonesia menunjukkan tantangan. Data BPS pada November 2025 mencatat 57,7% dari 147,91 juta penduduk bekerja berstatus informal. Mayoritas pekerja Indonesia tidak memiliki slip gaji tetap atau pendapatan yang tetap.
Mereka ini adalah orang-orang dengan status pekerjaan lainnya yang dikategorikan sebagai kegiatan informal (berusaha sendiri, berusaha dibantu, buruh tidak tetap/pekerja keluarga/tidak dibayar, pekerja bebas, dan pekerja keluarga/tidak dibayar).
Hal ini tentu jadi tantangan bagi perbankan termasuk BTN untuk terus memberikan manfaat pembiayaan yang lebih masif. Tujuannya agar semakin banyak orang seperti Luke dengan pekerja informal lainnya bisa memiliki rumah.
Menurut Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah, pekerja informal seperti Luke memang kerap kali mengalami kesulitan akses pembiayaan karena pendapatan tidak tetap. Di sinilah pentingnya peran perbankan seperti BTN.
"Banyak bank yang menawarkan fasilitas ini di antaranya BTN. BTN juga mulai memfasilitasi kredit perumahan khusus pekerja informal dengan mempermudah syarat pengajuan," tuturnya.
Senada, Ketua Umum DPP Asosiasi Pengembangan Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengatakan semua golongan masyarakat berhak memiliki rumah, termasuk warga yang bekerja di sektor informal. Ia mengapresiasi pengemudi ojol yang telah bertekad membeli rumah KPR Subsidi.
Junaidi bahkan mengatakan rumah adalah tempat pembentuk karakter yang baik bagi keluarga, khususnya terhadap anak-anak.
"Bahkan kalau kita punya rumah, martabat akan meningkat," jelas Junaidi Abdillah dalam sambutan Akad KPR BTN Gojek Punya Rumah di Perumahan Logam Bangun Setia 2, Bekasi, pada Jumat (29/8/2025) lalu.
BTN Hadir untuk Masyarakat
Pada 2025 lalu, Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu menyampaikan apresiasi kolaborasi strategis dengan Gojek yang membantu terwujudnya pembangunan rumah layak huni dengan harga terjangkau kepada masyarakat dari sektor informal.
Menurutnya, kolaborasi strategis ini merupakan salah satu strategi percepatan penyaluran KPR bersubsidi khususnya KPR Sejahtera BTN, yang memang dikhususkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR, yang selama ini sulit dijangkau, seperti pekerja sektor informal, pedagang pasar, hingga anak muda milenial yang baru masuk dunia kerja.
"Untuk itu, kolaborasi bersama Gojek tentu memudahkan kami menjangkau para mitra driver Gojek yang sehari-harinya melakukan pekerjaan yang sangat luar biasa mulia, penghasilannya pun jelas, dan dapat mendorong target jutaan masyarakat memiliki rumah layak huni," kata Nixon.
Lebih lanjut Nixon menambahkan sektor informal menjadi perhatian BTN, ini dibuktikan dengan penyaluran KPR Sejahtera ke pekerja informal mulai menanjak.
"Kami menargetkan tahun ini angkanya lebih besar lagi. BTN berharap kerja sama ini berjalan di seluruh wilayah potensial di mana Gojek beroperasi. Secara angka, kami harap terus mengalami peningkatan jumlah mitra driver yang dapat kami bantu mewujudkan mimpinya," katanya.
Nixon menilai Program KPR Sejahtera dapat menjadi salah satu ujung tombak untuk menyukseskan Program 3 Juta Rumah yang diinisiasi oleh pemerintahan baru di bawah Presiden Prabowo Subianto.
Kolaborasi ini juga merupakan bagian dari komitmen Zero Barriers (Nol Hambatan) Gojek untuk mengurangi hambatan sosial dan ekonomi mitra driver sehingga menciptakan peluang yang berkelanjutan dan beragam agar segera naik kelas.
(akd/ega)










































