Desa Nagoro adalah sebuah desa terpencil di Jepang yang kehilangan banyak populasi penduduknya. Desa tersebut terletak di Lembah Iya, Pulau Shikoku, Jepang. Di tengah krisis populasi yang mengancam desa Nagaro jadi desa mati, salah satu penduduk mengubah desa menjadi permukiman unik yang dihuni boneka berbentuk dan seukuran manusia.
Dilansir dari situs National Geographic yang tayang pada 2017, semuanya bermula ketika seorang penduduk lama bernama Tsukimi Ayano kembali ke desa kelahirannya, Nagoro, setelah lama tinggal di Osaka. Desa yang dulu dihuni lebih dari 300 orang itu hanya menyisakan sekitar 35 penduduk pada.
Setelah ayahnya meninggal dunia, Ayano mulai membuat boneka orang-orangan sawah yang dibuat sangat mirip dengan manusia. Awalnya boneka itu diciptakan untuk menjaga ladangnya dari burung, namun lama-kelamaan ia membuat banyak boneka dengan meletakkan boneka itu di berbagai bangunan yang terbengkalai. Aksinya itu ia lakukan untuk mengenang warga desa yang telah meninggal ataupun bermigrasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayano mengaku setiap boneka dibuat dengan membayangkan sosok aslinya ketika masih hidup dan sehat. Baginya, boneka-boneka tersebut seperti anak-anaknya sendiri.
Boneka di Desa Nagaro Jepang Foto: (AFP/Kazuhiro Nogi) |
Hampir 15 tahun kemudian, jumlah boneka di Desa Nagoro mencapai lebih dari 350, sepuluh kali lipat dari jumlah penduduk yang tersisa. Boneka-boneka itu ditempatkan di berbagai sudut desa, seperti duduk di teras rumah-rumah yang telah lama kosong, ditempatkan di ruang kelas sekolah yang sudah lama tutup, hingga ditempatkan di ladang.
Dilansir dari Tokyo Weekender, Nagoro memang menjadi wilayah terpencil yang terancam menjadi desa mati. Tidak ada satupun bayi yang lahir di sana dalam 20 tahun terakhir. Fasilitas seperti supermarket dan rumah sakit terdekat, bahkan jaraknya sekitar 90 menit dengan menempuh perjalanan menggunakan mobil.
Fenomena ini tak lepas dari krisis populasi di Jepang. Jepang sendiri telah mengalami penurunan populasi selama 14 tahun berturut-turut, dengan penurunan terbaru mencapai 801 ribu jiwa dalam setahun yang disebut sebagai penurunan paling tajam dalam sejarah modern negara itu.
Banyak warga yang bermigrasi ke kota besar demi pekerjaan dan pendidikan. Pedesaan menjadi kekurangan penduduk. Hal itu membuat sekolah-sekolah menjadi tutup, banyak toko gulung tikar, bangunan-bangunan terbengkalai, hingga jalur transportasi dihentikan. Desa Nagoro menjadi contoh nyata.
Sekolah dasarnya resmi ditutup pada 2012, lalu ruang kelas kosongnya diisi boneka yang mengenakan seragam murid terakhir yang pernah belajar di sana. Ayano bahkan memberikan nama dan latar belakang cerita pada sebagian boneka, menciptakan kembali komunitas dari ingatannya.
Bagi Ayano, boneka-boneka itu bukan sekadar karya seni, melainkan cara mengusir sepi dan menjaga ingatan atas warga desa yang telah pergi. Jumlah penduduk Desa Nagoro kini hanya sekitar dua lusin orang, yang sebagian besar adalah lansia. Di balik daya tarik uniknya, Desa Nagoro tetap menjadi simbol nyata krisis hunian dan depopulasi pedesaan Jepang.

