Banyak mal di Jabodetabek mulai bangkit dan ramai pengunjung pasca pandemi Covid-19. Kondisi ini menjadi pertanda baik mengingat dahulu banyak mal kosong yang sepinya menyaingi kuburan di masa pandemi.
Di balik gerilyanya peningkatan pengunjung mal di Jabodetabek, ada beberapa pusat perbelanjaan yang masih terpuruk. Sebenarnya apa penyebabnya?
Menurut Head of Project and Asset Management JLL Indonesia Naomi Patadungan biang kerok utama masih ada beberapa mal sepi adalah karena mereka tidak dapat 'berdandan' untuk menarik pengunjung. Menurutnya, sebuah mal seharusnya minimal 5 bulan sekali harus merombak konsep mengikuti tren saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi mal itu memang harus refurbishment (melakukan renovasi), melakukan refit-out (copot pasang tenant), tenant relocation. Harus bicara juga tentang pilih tenant yang paling baik, cocok dengan traffic-nya ya. Karena orang ngerasa mall kayak tempat destination, hiburan gitu kan. Tadi kan dibilang, karena rumah compact (kecil, private). Jadi orang tuh ketemunya di mall," kata Naomi saat ditemui seusai JLL Media Briefing, di Jakarta pada Kamis (12/2/2026).
Masalah lainnya adalah beberapa mal itu tidak memperhatikan keindahan fasilitas dan penunjang mal tersebut, seperti keterangan lampu, kebersihan dan kenyamanan kamar mandi serta musala, hingga tampilan depan mal.
"Kebayang nggak ada satu retail yang misalnya gedung lama, tapi tenant di dalamnya fit-outnya lebih terang, lebih bagus, instagramable, itu menjadi daya tarik orang untuk dateng. Jadi orang bukan dateng ke mall-nya, tapi pengen dateng ke toko itu, misalnya. Nah, itu kan sebagai bukti ya, bahwa retail itu harus terus berdandan," jelasnya.
Di luar masalah tampilan, konsep mal juga berpengaruh. Ia mengatakan mal akan sulit mengikuti tren saat ini apabila konsepnya strata tittle mall. Selama pihak pengelola dan pemilik toko masih kaku dan susah diatur, peminat mal tersebut akan terus kalah dengan lease mall.
"Karena strata title problemnya. Sebenarnya kalau strata title mall pun, pengelola gedungnya harus bisa bicara dengan masing-masing unit owners. Jadi kita nggak bisa misalnya gini, toko sebelahnya misalnya restoran, sebelahnya banking, atau restoran sebelahnya traffic (toko yang tinggi pengunjungnya)," ungkapnya.
Mau tidak mau, untuk menarik pengunjung tipe strata tittle mall harus mendorong banyak event berlangsung di dalamnya. Dengan begitu, pengunjung harian akan tetap berdatangan ke mal dan kunjungan ke toko pun akan meningkat.
Sementara itu, Naomi mengungkapkan salah satu jantung utama banyak mal ramai saat ini adalah area food and beverage, penjual perlengkapan olahraga dan fashion (sport wear), serta toko kecantikan. Ketiganya merupakan jenis tenant yang cukup ramai dicari saat ini mengingat generasi milenial dan Gen Z menyukai segala hal yang berkonsep wellness.
"Saat ini, trennya sangat berkembang, terutama dengan jenis tenant gedung di ritel untuk meningkatkan traffic dan kami juga melihat bahwa traffic sekarang stabil, tidak hanya di akhir pekan tetapi juga hari kerja," terangnya.
(aqi/das)










































