Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan genteng masih mendominasi jenis atap yang dipakai di Indonesia saat ini.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti bahwa berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025, rumah yang sudah beratap genteng pada 2025 sebanyak 54,24 persen.
Sementara itu, pada posisi kedua ada material seng, yakni sebanyak 32,76 persen. Sisanya adalah jenis asbes dan material lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, BPS juga pernah mengeluarkan data jumlah pengguna genteng, seng, hingga asbes di Indonesia berjudul Persentase Rumah Tangga Menurut Provinsi dan Bahan Bangunan Utama Atap Rumah Terluas 2021.
Dalam data tersebut, 34 dari 38 provinsi masuk dalam pendataan. Provinsi yang belum masuk dalam pendataan adalah Papua Barat Daya, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Menurut data BPS 2021 tersebut, jenis atap rumah yang banyak digunakan di Indonesia adalah genteng dengan persentase sebesar 55,86 persen. Lebih rincinya sebagai berikut:
1. Genteng 55,86 persen
2. Seng 31,38 persen
3. Asbes 9,42 persen
4. Beton 1,85 persen
5. Jerami/ijuk/daun/rumbia 0,79 persen
6. Bambu/kayu/sirap 0,50 persen
7. Lainnya 0,20 persen
Akhir-akhir ini, genteng tengah ramai dibicarakan. Pasalnya Presiden Prabowo Subianto baru saja menggalakkan program baru bernama Gentengisasi. Ia mendorong agar rumah-rumah di Indonesia mulai berganti memakai genteng sebagai atap rumah. Menurutnya, seng membuat rumah terasa panas dan mudah berkarat.
"Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek Gentengisasi seluruh Indonesia," ujarnya dalam Taklimat Presiden RI pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, dikutip dari Youtube Sekretariat Presiden, Senin (2/2/2026).
Agar gerakan itu berjalan, Prabowo akan melengkapi Koperasi Merah Putih dengan pabrik genteng. Bahan baku genteng yang terbuat dari tanah dianggap lebih menyejukkan daripada seng. Prabowo juga membandingkan penggunaan bahan atap pada zaman dulu seperti ijuk dan sirap yang dinilai lebih adem ketimbang seng.
"Genteng itu bahan bakunya dari tanah dan dengan dicampur dengan berapa zat limbah lainnya, bisa ringan, dan kuat. Saya dapat laporan dari profesor-profesor kita, bahwa limbah dari batu bara ya, ash, itu dicampur dengan tanah, bahan genteng yang baik," ungkapnya.
Ke depan, ia tidak ingin lagi melihat penggunaan seng, terutama yang sudah berkarat, pada atap rumah. Menurutnya, itu melambangkan degenarasi.
"Jadi saudara-saudara, saya mengajak, ini sangat penting. Turis dari luar, untuk apa dia datang melihat seng berkarat? Karat itu lambang degenerasi," ujarnya.
(aqi/das)










































