Ada Gentengisasi, 55 Persen Rumah di RI Pakai Genteng, Seng 31 Persen

Ada Gentengisasi, 55 Persen Rumah di RI Pakai Genteng, Seng 31 Persen

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Rabu, 04 Feb 2026 13:16 WIB
Ada Gentengisasi, 55 Persen Rumah di RI Pakai Genteng, Seng 31 Persen
Ilustrasi Genteng. Foto: Unsplash/Willy the Wizard
Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto menggagas gerakan baru bernama Gentengisasi. Ia menginginkan seluruh rumah di Indonesia memakai genteng agar lebih indah dan meninggalkan atap seng yang mudah berkarat dan membuat hunian panas.

Lantas, jenis atap apa yang paling banyak digunakan di Indonesia? Apakah genteng salah satunya?

Berdasarkan data Persentase Rumah Tangga Menurut Provinsi dan Bahan Bangunan Utama Atap Rumah Terluas dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021, terdapat beberapa jenis atap rumah yang dihitung, di antaranya genteng, beton, seng, asbes, bambu/kayu/sirap, jerami/ijuk/daun/rumbia, dan jenis lainnya yang tidak dirincikan jenisnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam data tersebut, 34 dari 38 provinsi masuk dalam pendataan. Provinsi yang belum masuk dalam pendataan adalah Papua Barat Daya, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Menurut data BPS 2021, jenis atap rumah yang banyak digunakan di Indonesia pada saat itu adalah genteng dengan persentase sebesar 55,86 persen. Lebih rincinya sebagai berikut:

ADVERTISEMENT

1. Genteng 55,86 persen

2. Seng 31,38 persen

3. Asbes 9,42 persen

4. Beton 1,85 persen

5. Jerami/ijuk/daun/rumbia 0,79 persen

6. Bambu/kayu/sirap 0,50 persen

7. Lainnya 0,20 persen

Provinsi terbanyak yang menggunakan genteng adalah DI Yogyakarta sekitar 94,38 persen, disusul Jawa Timur 91,56 persen, Jawa Tengah sebesar 86,35 persen, Jawa Barat 82,01 persen, dan Lampung 84,93 persen. Sebaliknya, provinsi yang sedikit memakai genteng adalah Maluku Utara 0,93 persen, Nusa Tenggara Timur 0,93 persen, Papua 1,26 persen, hingga Papua Barat 1,31 yang persentasenya di bawah 2 persen.

Sementara itu, provinsi yang cukup banyak memakai seng sebagai atap rumah adalah Gorontalo sebanyak 97,04 persen, Papua Barat 96,40 persen, Kalimantan Utara 95,62 persen, Sumatera Barat 94,71 persen, dan Sulawesi Utara 94,06 persen.

Ada pun, provinsi yang paling sedikit memakai seng adalah Jawa Timur 1,02 persen, Jawa Barat 1,04 persen, DI Yogyakarta 1,62 persen, Banten 1,18 persen, dan dan Jakarta 2,62.

Kemudian, provinsi yang paling banyak memakai asbes adalah Kepulauan Bangka Belitung sebanyak 56,65 persen, Jakarta 54,78 persen, dan Jawa Barat 13,40. Material beton juga banyak digunakan di Indonesia, seperti di Provinsi Jakarta sebanyak 4,28 persen, Kepulauan Riau 3,75 persen, dan Jawa Barat 3,08 persen.

Jerami/ijuk/daun/rumbi rata-rata dipakai di bawah 1 persen pada masing-masing provinsi. Paling banyak digunakan di Papua sebanyak 22,42, Nusa Tenggara Timur sebesar 5,19 persen, Sulawesi Tengah 4,66 persen.

Lalu, material atap dari bambu/kayu/sirap juga sudah mulai ditinggalkan pada 2021. Persentasenya lebih rendah dari penggunaan jerami atau ijuk, rata-rata masing-masing provinsi yang masih memakai juga di bawah 1 persen. Lokasi paling banyak yang masih memakai Bambu/kayu/sirap adalah Kalimantan Tengah 7,37 persen, Kalimantan Selatan 5,81 persen, dan Kalimantan Barat 2,02 persen.

Sebelumnya diberitakan, Prabowo mengatakan, di Indonesia saat ini banyak yang menggunakan atap seng. Padahal atap seng itu bisa membuat ruangan terasa panas bagi penghuni rumah.

"Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek Gentengisasi seluruh Indonesia," ujarnya dalam Taklimat Presiden RI pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, dikutip dari Youtube Sekretariat Presiden, Senin (2/2/2026).

Agar gerakan itu berjalan, Prabowo akan melengkapi Koperasi Merah Putih dengan pabrik genteng.

Bahan baku genteng yang terbuat dari tanah dianggap lebih menyejukkan daripada seng. Prabowo juga membandingkan penggunaan bahan atap pada zaman dulu seperti ijuk dan sirap yang dinilai lebih adem ketimbang seng.

"Genteng itu bahan bakunya dari tanah dan dengan dicampur dengan berapa zat limbah lainnya, bisa ringan dan kuat. Saya dapat laporan dari profesor-profesor kita, bahwa limbah dari batu bara ya, ash, itu dicampur dengan tanah, bahan genteng yang baik," ungkapnya.

Ke depan, ia tidak ingin lagi melihat penggunaan seng, terutama yang sudah berkarat, pada atap rumah. Menurutnya, itu melambangkan degenarasi.

"Jadi saudara-saudara, saya mengajak, ini sangat penting. Turis dari luar, untuk apa dia datang melihat seng berkarat? Karat itu lambang degenerasi," ujarnya.




(aqi/zlf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads