Ada banyak perumahan yang menawarkan rumah dengan desain minimalis, lokasi strategis, dan harga terjangkau. Namun terkadang, pengembang kerap luka akan satu hal yang juga tak kalah penting, yakni lahan resapan air.
Kehadiran lahan resapan air punya fungsi penting agar perumahan bebas dari banjir. Sebab, air hujan akan meresap ke tanah dan mengurangi genangan air yang sering muncul ketika turun hujan.
Namun, tidak semua pengembang memikirkan soal lahan resapan air di dalam area perumahan yang dibangun. Alhasil, banyak perumahan yang malah terendam banjir ketika hujan deras.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengamat properti sekaligus Direktur PT Global Asset Management Steve Sudijanto mengatakan masih banyak pengembang yang mengabaikan lahan resapan air. Bahkan, pengembang juga tidak mempersiapkan irigasi pencegahan banjir di lingkungan perumahan.
"Ada banyak developer perumahan yang mengabaikan irigasi pencegahan banjir serta pematangan lahan yang benar atau diuruk tanahnya agar tinggi," kata Steve saat dihubungi detikcom, Senin (26/1/2026).
Steve berujar kalau menyiapkan lahan resapan air, irigasi pencegahan banjir, dan pengerukan tanah membutuhkan biaya yang cukup besar. Alhasil, banyak pengembang yang tidak melakukan hal tersebut lantaran harga tanah yang dijual bisa lebih mahal dan khawatir tidak menarik konsumen.
"Contohnya sebuah developer membeli tanah dari masyarakat dengan harga Rp 1 juta per meter persegi. Kalau disiapkan dengan pematangan lahan uruk, irigasi pencegahan banjir, jalan, utilitas, maka kalau yang wajar harga jual lahan tersebut ke konsumen menjadi Rp 8 juta per meter persegi," ungkapnya.
Sayangnya, langkah pencegahan banjir kerap dipandang sebelah mata oleh pengembang sehingga berujung merugikan konsumen yang telah membeli rumah tersebut. Pasalnya, setiap kali banjir melanda banyak perabotan dan barang elektronik jadi rusak akibat terendam air.
Belum lagi harga jual rumah yang bisa anjlok karena sudah terendam banjir. Calon pembeli juga akan berpikir dua kali untuk membeli unitnya karena tidak mau kebanjiran setiap kali turun hujan.
"Harga properti akan turus alias susah dijual di secondary market karena sudah sering terendam banjir," papar Steve.
Jika ingin membeli sebuah rumah, Steve menyarankan untuk mengecek langsung ke lokasi agar bisa melihat kondisi sekitar. Bisa juga bertanya kepada warga setempat, ketua RT, atau petugas keamanan di sekitar apakah kawasan ini sering banjir atau tidak.
Selain itu, calon pembeli juga bisa mengecek saluran air atau got di sekitar rumah. Amati got di lingkungan rumah apakah ukurannya besar dan bersih atau kecil dan penuh sampah.
Meski sepele, tetapi saluran air yang penuh sampah bisa memicu banjir ketika turun hujan deras. Air jadi tersumbat dan akhirnya meluap hingga menggenangi jalan dan rumah-rumah warga.
Selain itu, cari juga informasi soal peta bencana yang dimiliki oleh pemerintah. Caranya bisa mengecek situs atau akun media sosial milik lembaga resmi BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) atau BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah).
"Bisa juga mengunjungi kantor Kelurahan atau Kecamatan setempat. Mereka biasanya ada Peta Teritori Lahan Produktif dan Komersial, Peta Irigasi, Peta Kontur tanah, Peta Aliran Sungai, dan Peta Daerah Aliran Sungai," imbuh Steve.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
(ilf/das)










































