Ada banyak sekali mal yang tersebar di Jakarta. Pada umumnya, mal dibangun dengan sejumlah fasilitas yang memudahkan pengguna kendaraan pribadi seperti mobil atau sepeda motor untuk datang.
Meski ada banyak mal yang memanjakan pengguna kendaraan pribadi, tapi ada juga sejumlah pusat perbelanjaan yang mulai terhubung dengan transportasi umum. Menariknya, mal yang mengusung konsep TOD (Transit Oriented Development) dinilai bisa membawa keuntungan besar.
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengatakan mal berkonsep TOD yang terhubung dengan moda transportasi seperti MRT, KRL, dan TransJakarta merupakan langkah baik di masa kini. Sebab, masyarakat lebih mudah untuk berbelanja tanpa harus repot-repot berjalan kaki atau menggunakan transportasi online lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di mal TOD itu kan orang-orang tuh ulang alik dalam waktu yang cepat, dia akan beli makanan di situ, barang-barang yang kiranya dia butuh cepat dan bisa ditransaksikan cepat, like practice transaction," kata Syarifah saat diwawancara detikcom pada acara Media Gathering Jakarta Property Highlights 2026 di Topgolf Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Bukan tidak mungkin, jumlah pengunjung mal yang berkonsep TOD bisa bertambah atau membludak karena akses yang mudah. Ritel-ritel yang buka di mal tersebut juga dapat meraup cuan karena nilai transaksinya semakin bertambah.
Selain itu, tarif naik transportasi umum jauh lebih murah daripada menggunakan kendaraan pribadi, sehingga masyarakat tidak perlu memikirkan biaya parkir dan bensin.
Mal berkonsep TOD juga lebih nyaman bagi pengunjung. Misalnya saat musim hujan tiba, pengunjung tak perlu khawatir bakal kehujanan karena saat keluar stasiun atau halte sudah langsung terhubung ke dalam mal tersebut.
Meski begitu, Syarifah mengingatkan ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan pada mal TOD. Ia menyebut harus lebih selektif terhadap segmen pengunjung mal, apakah pekerja, ibu rumah tangga, atau masyarakat umum yang ingin pergi jalan-jalan saat akhir pekan.
"Saya pikir itu hal yang bagus ya untuk memiliki konsep seperti itu, tapi tetap harus selektif untuk melihat bahwa pola dan segmennya apa, apakah pekerja, ibu rumah tangga, atau anak sekolah, sehingga mata dagang yang di offer di dalam ruang-ruang ritel di TOD bisa sesuai dengan segmen," paparnya.
Syarifah mengambil contoh mal TOD yang menawarkan banyak ritel di bidang food and beverage (FnB). Masyarakat dapat mampir ke mal tersebut sebentar untuk mengisi perut atau sekadar kumpul bersama keluarga.
Lebih lanjut, Syarifah menilai jika mal saat ini lebih mengutamakan open space atau ruang terbuka. Sebab, tren di masyarakat sekarang ini adalah tidak hanya makan dan berbelanja, tapi juga butuh hangout untuk interaksi sosial.
"Konsumen sudah mulai consider bahwa open space it's another physical building atau open space adalah ritel baru atau open space adalah mal baru. Jadi ya memang sudah arah ke sana dan kita lihat sendiri bahwa masyarakat butuh area interaksi sosial," imbuh Syarifah.
(ilf/abr)











































