Warga Jakarta Garden City (JGC) tengah dirundung kekecewaan terhadap manajemen perumahan JGC. Mereka mengeluhkan jalanan rusak hingga lingkungan tidak sehat karena bau sampah.
Untuk diketahui, Jakarta Garden City (JGC) adalah perumahan yang dikembangkan oleh PT Modernland Realty Tbk. Lokasinya berada di Cakung, Jakarta Timur.
Ketua RT 18/RW 14 Wahyu Andre Maryono mengatakan warga melakukan aksi demonstrasi pada Sabtu (17/1). Mereka menuntut perbaikan fasilitas perumahan, terutama jalanan yang rusak dan berlubang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebut warga sudah berulang kali mengeluh kepada pihak manajemen, tetapi jalanan tak segera diperbaiki hingga tuntas. Setiap kali ada aksi, manajemen hanya menambal jalan dengan semen sehingga lubang kembali terbuka.
Penampakan jalan rusak di Jakarta Garden City. Foto: Dok. Wahyu Andre Maryono, warga JGC Cakung |
Dampak dari kerusakan jalan tersebut antara lain motor terperosok, warga jatuh sampai mengalami luka, dan mobil rusak. Ia pun mempertanyakan siapa yang akan menanggung kerugian akibat jalan rusak tersebut.
Menurut Wahyu, jalanan di JGC sudah mulai rusak sejak pandemi COVID-19 pada 2022. Pihak perumahan hanya melakukan perbaikan minor dari waktu ke waktu setelah ada protes dari warga.
Selain itu, warga juga sudah meminta perbaikan dan mengancam akan melakukan demo pada November 2025. Ia mengatakan pihak manajemen berjanji akan memperbaiki lubang sementara, lalu perbaikan total pada Juni 2026.
"Jalanannya hancur berlubang-lubang dan tidak segera diperbaiki. Sebenarnya pada akhir tahun lalu kami sudah sempat ketemu dengan manajemen, mereka menjanjikan akan ada perbaikan dulu minor ditambal-tambal, nanti Juni katanya baru akan ada perbaikan total," ujar Wahyu saat dihubungi detikProperti, Minggu (18/1/2026).
Namun, warga tetap menuntut agar perbaikan dilakukan sesegera mungkin. Jika manajemen JGC tidak dapat memperbaiki jalan, warga meminta perawatan jalan diserahkan kepada Pemerintah Daerah (Pemda) DKI.
Selain jalanan, ia mengatakan warga juga mengeluhkan fasilitas perumahan dan tidak terawat serta janji-janji yang tidak terpenuhi. Tembok klaster ada yang rusak, bahkan hampir roboh. Kemudian, janji adanya clubhouse dan jogging track tak kunjung terbangun, bahkan mangkrak di Cluster Mahakam.
Padahal, warga sudah membayar iuran pengelolaan keamanan dan lingkungan (IPKL). Ia menyebut IPKL itu sebesar Rp 5.500 per meter persegi. Setiap bulan ia bisa mengeluarkan hingga Rp 500 ribu untuk iuran tersebut.
Di sisi lain, Wahyu juga mengatakan lingkungan perumahan kerap muncul bau sampah. Hal itu lantaran terdapat pabrik sampah atau Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan dekat perumahan.
"Sampai hari ini masih ada aktivitas dari pabrik pengelolaan sampah milik Pemda DKI. Dan itu baunya itu masih sering kita rasakan. Nah kami ini menuntut tanggung jawabannya manajemen," ujarnya.
Bau tersebut awalnya muncul sejak Maret 2025. Warga sudah protes ke pihak pabrik beberapa kali. Pihak pabrik pun sudah menghentingkan operasi dan melakukan perbaikan berulang kali. Bau sampah memang berkurang, namun masih mengganggu kenyamanan masyarakat.
Ia mengatakan warga juga sudah menyampaikan keluhan kepada manajemen perumahan. Namun, manajemen tidak dapat melakukan apa-apa lantaran pabrik tersebut milik pemerintah.
"Manajemen lepas tangan, bilang 'Itu bukan urusan kami Pak, itu urusan dengan pemerintah daerah, kami tidak bisa ikut campur'. Tapi dia tetap jualan rumah," imbuhnya.
Wahyu berharap pengembang JGC tidak tinggal diam terhadap pabrik tersebut. Ia ingin pengembang dan pengelola ikut melakukan protes, mitigasi dampak, melakukan advokasi, serta pendampingan kepada warga. Lalu, manajemen juga perlu terbuka dengan calon pembeli rumah agar tahu risiko tinggal dekat pabrik.
Di samping itu, Wahyu merasa dibohongi lantaran rumah yang dibelinya untuk investasi justru tidak menguntungkan. Rumah yang dibelinya 7 tahun lalu seharga Rp 2 miliar, kini ditawar hingga Rp 1,2 miliar padahal harga rumah di sana rata-rata lebih dari Rp 1,4 miliar.. Calon pembeli kini ragu membeli rumah di sana karena kondisi jalanan yang rusak dan berada dekat pabrik sampah.
"Dulu dibeli rumah Rp 2 miliar, sekarang dijualnya sekitar Rp 1,5 sampai Rp 1,2, malah makin turun investasinya. Karena orang anggap di JGC itu sudah bukan tempat yang bagus untuk investasi," ucapnya.
Wahyu mengatakan warga akan terus melakukan demo setiap bulan untuk mendorong pengelola perumahan melakukan perbaikan. Aksi selanjutnya akan dilakukan pada 14 Februari 2026 bertepatan dengan hari Valentine.
"Kami akan melakukan aksi lagi tanggal 14 Februari, di hari Valentine. Kami akan bagi-bagi bunga dan juga brosur untuk menghimbau supaya warga jangan beli rumah di Jakarta Garden City kalau manajemen tidak mampu mengelola kawasannya dengan baik," tuturnya.
Hal ini dilakukan untuk mencegah ada korban selanjutnya. Ia tak ingin ada orang lain yang tertipu lagi seperti mereka.
detikProperti sudah berusaha menghubungi pihak Modernland Realty selaku pengembang Jakarta Garden City. Namun, sampai berita ini tayang belum ada tanggapan dari pengembang terkait hal tersebut.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
(dhw/abr)












































