Sejarah Kota Mati Centralia: Dulu Jadi Tambang Batu Bara, kini 'Neraka Dunia'

Jejak Hidup di Kota Mati

Sejarah Kota Mati Centralia: Dulu Jadi Tambang Batu Bara, kini 'Neraka Dunia'

ilham fikriansyah - detikProperti
Rabu, 14 Jan 2026 17:16 WIB
Sejarah Kota Mati Centralia: Dulu Jadi Tambang Batu Bara, kini Neraka Dunia
Sebuah rumah masih berdiri di kota mati Centralia. Foto: Wikimedia Commons/Brian W. Schaller
Jakarta -

Centralia merupakan salah satu kota mati yang ada di Amerika Serikat. Dulu kota ini dihuni oleh ribuan orang yang mencari rezeki di tambang batu bara. Namun, semua berubah kala muncul 'api abadi' di bawah tanah.

Pada 1962, terjadi kebakaran hebat yang melanda tempat pembuangan sampah Centralia di pinggir kota. Nahas, api menyebar dengan cepat dan melahap labirin menuju tambang batu bara yang ada di bawah tanah.

Masalah muncul karena tambang batu bara itu berada di kedalaman 100 meter. Petugas Damkar kesulitan untuk memadamkan api karena cukup dalam dan suhunya menyentuh 750 derajat Celcius.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi itu membuat Pemerintah AS mengambil tindakan cepat dengan mengosongkan kota Centralia. Seluruh warga diungsikan ke tempat yang lebih aman, lalu kota kecil ini ditutup untuk umum dan berubah menjadi kota mati selama puluhan tahun.

Tak heran kalau kota mati ini disebut 'Neraka Dunia' karena terdapat api abadi di bawah tanah. Bahkan, pemerintah memprediksi jika api di bawah tanah akan terus menyala hingga 100 tahun ke depan.

ADVERTISEMENT

Centralia, Kota yang Dulu Populer dengan Tambang Batu Bara

Kota Centralia di PennsylvaniaKota Centralia di Pennsylvania Foto: (Google Earth)

Dikutip dari Business Insider, Rabu (13/1/2026), Centralia didirikan pada 1866 oleh seorang insinyur pertambangan, Alexander Rae. Kota kecil ini terletak di Pennsylvania, tepatnya di bagian utara Pegunungan Appalachian.

Centralia dibangun agar memudahkan pengiriman hasil tambang batu bara ke seluruh AS. Sebab, kawasan ini dulunya memiliki sumber daya alam batu bara yang berlimpah, sehingga menarik banyak orang untuk datang.

Jalur kereta api kemudian dibangun untuk mengirim hasil tambang batu bara menuju Centralia. Seiring waktu, kota ini terus berkembang pesat dan menjadi pusat pertambangan. Menurut data Sensus AS, jumlah populasi di Centralia sempat menyentuh angka 2.761 jiwa pada 1890.

Seiring waktu, tambang batu bara di dekat Centralia akhirnya ditutup dan warga mulai bekerja di industri atau migrasi ke kota besar. Meski begitu, kota kecil ini tetap berkembang dan perlahan memiliki sejumlah fasilitas umum, seperti sekolah, rumah sakit, dan supermarket.

Warga Centralia awalnya hidup dengan bahagia dan damai, terlebih tinggal di kawasan hijau dan dekat pegunungan. Namun, kebahagiaan itu perlahan sirna akibat kebakaran yang melahap tambang batu bara.

Warga Enggan Pindah Meski Ditawari Ganti Rugi

Centralia merupakan kota mati di AS. Kota ini ditinggal penghuninya lantaran ada 'api abadi' di bawah tanah akibat kebakaran tambang batu bara.Papan penunjuk yang menandakan Centralia berbahaya. Foto: Wikimedia Commons/CCA 2.0/Doug Kerr

Pemerintah AS tidak tinggal diam ketika kebakaran melanda tambang batu bara yang terletak di bawah kota Centralia. Anggaran yang digelontorkan sebesar US$ 3,5 juta atau Rp 59 miliar (kurs Rp 16.860) hanya untuk memadamkan api.

Namun, pemerintah menyerah karena kobaran api tak kunjung padam. Belum lagi kebakaran di dalam tanah luasnya mencapai 350 hektare dan terletak di kedalaman ratusan meter, sehingga upaya pemadaman api berujung gagal.

Akhirnya pada 1981, pemerintah mulai membantu penduduk Centralia untuk pindah ke tempat yang aman. Namun, banyak warga menolak pindah dan memilih bertahan karena dirasa masih aman.

Meski kebakaran terletak di kedalaman 100 meter, tapi dampaknya perlahan mulai muncul di daratan. Pada 1982, seorang warga bernama Tom Larkin menunjukkan bagaimana panas yang naik dari dalam tanah dapat digunakan untuk memasak telur di wajan.

Selain itu, tanah di Centralia mulai dipenuhi lubang dan tumpukan abu pasca kebakaran. Jika tidak hati-hati saat berjalan, hewan atau manusia bisa masuk ke dalam lubang yang panas dan penuh asap.

Masyarakat akhirnya mulai sadar ketika terjadi insiden seorang anak jatuh ke dalam lubang yang suhunya sangat panas dan hampir merenggut nyawanya. Meski berhasil diselamatkan, tapi kejadian itu membuat warga akhirnya melek dan memutuskan pergi dari Centralia.

Pada 1983, Pemerintah AS menggelontorkan dana sebesar US$ 42 juta atau sekitar Rp 708 miliar untuk membeli seluruh rumah warga di Centralia. Setelah dibeli, warga direlokasi ke kota yang lebih aman.

Kala itu, Centralia dihuni lebih dari 1.000 jiwa. Lalu ada 500 lebih bangunan yang berdiri di kota kecil ini, mulai dari rumah tapak, sekolah, rumah sakit, gereja, hingga supermarket.

Hampir seluruh penduduk Centralia memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih aman. Namun, beberapa warga ada yang memilih bertahan dan menolak rumahnya dibeli oleh pemerintah.

Centralia merupakan kota mati di AS. Kota ini ditinggal penghuninya lantaran ada 'api abadi' di bawah tanah akibat kebakaran tambang batu bara.Rumah milik Lamar Mervine di Centralia. Foto: Wikimedia Commons/Brian W. Schaller

Salah satunya adalah Lamar Mervine yang juga merupakan eks walikota Centralia. Bersama sang istri, Lamar memilih tetap tinggal di kota kecil itu meski pihak pemerintah berupaya untuk mengakuisisi rumahnya.

"Ini satu-satunya rumah yang pernah saya miliki dan saya ingin tetap memilikinya," kata Lamar dalam wawancara dengan Christian Science Monitor pada 2006.

Bahkan setelah istrinya wafat pada 2008 dan Lamar meninggal pada 2010, rumah tersebut malah dihuni oleh putranya, Harold Mervine. Ia dan beberapa penduduk lain memilih bertahan hidup di Centralia, walau risikonya sangat besar.

Harold dan sebagian penduduk yang tersisa sempat mengajukan gugatan dan menyatakan punya hak untuk tinggal di Centralia. Akhirnya warga menang di pengadilan pada 2013 dan diizinkan untuk menempati rumahnya masing-masing.

Namun, terdapat kesepakatan bagi pemilik rumah yang meninggal dunia maka propertinya akan diambilalih pemerintah, sehingga tidak bisa diwariskan atau dijual ke orang lain. Warga juga harus membayar sebesar US$ 349.500 atau sekitar Rp 5,9 miliar agar bisa tinggal di Centralia.

Menurut data Sensus AS pada 2020, total hanya ada lima penduduk yang masih tinggal di Centralia. Jarak rumah mereka juga berjauhan, sedangkan di sekelilingnya hanya lahan kosong karena sudah banyak bangunan yang dibongkar oleh pemerintah sejak 1990-an.

Tampak kota mati Centralia dari Google Maps, terlihat ada beberapa banguann saja yang berdiri, sisanya sudah rata dengan tanah.Tampak kota mati Centralia dari Google Maps, terlihat ada beberapa bangunan saja yang masih berdiri, sisanya sudah rata dengan tanah. Foto: Dok. Google Maps

Dari pantauan di Google Maps, Centralia tampak kosong dan sudah seperti kota mati. Terlihat hanya ada beberapa bangunan yang merupakan rumah tapak milik warga. Ada juga bangunan Municipal Building atau kantor pusat pemerintahan Centralia serta kantor Damkar, tapi sudah ditutup sejak lama.

Kini, Centralia dibiarkan kosong dan menjadi kota mati selama puluhan tahun. Terlihat sejumlah ruas jalan rusak dan tidak diperbaiki. Dari celah aspal yang terbuka, ada asap putih yang keluar dari dalam tanah sehingga menandakan kobaran api masih belum padam.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(ilf/das)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads