Imbas Insiden Kebakaran, Hong Kong Batasi Penggunaan Perancah Bambu

Imbas Insiden Kebakaran, Hong Kong Batasi Penggunaan Perancah Bambu

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Jumat, 28 Nov 2025 19:31 WIB
Penampakan apartemen Wang Fuk Court di Hong Kong setelah terbakar.
Penampakan apartemen Wang Fuk Court di Hong Kong setelah terbakar. Foto: AP via The Sydney Morning Herald
Jakarta -

Insiden kebakaran apartemen Wang Fuk Court di Hong Kong telah mendorong pemerintah untuk memperhatikan proyek-proyek pembangunan yang masih memakai perancah bambu atau scaffolding bambu.

Dilansir BBC, Jumat (28/11/2025), dalam konferensi pers kemarin, Kepala Eksekutif Daerah Administratif Khusus Hong Kong (HKSAR) John Lee mengatakan pihaknya berencana akan melakukan inspeksi semua perumahan yang sedang menjalani renovasi besar untuk memeriksa keamanan perancah bambu dan material bangunan.

"Pemerintah akan bersatu dengan seluruh rakyat Hong Kong, dan kami yakin bahwa kita akan mampu melewati ini bersama-sama," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perancah bambu merupakan konstruksi pelindung yang umum digunakan pada pekerjaan konstruksi dan renovasi. Sebenarnya penggunaan perancah bambu dalam proyek renovasi bangunan sudah dilakukan sejak lama. Hong Kong menjadi salah satu negara terakhir yang masih mempertahankan teknik ini karena dinilai penggunaan bambu juga bentuk dari seni.

Meskipun begitu, Hong Kong sudah tahu mengenai bahaya dari penggunaan perancah bambu tersebut. Oleh karena itu, muncul regulasi yang meminta masyarakat secara bertahap mengganti penggunaan perancah bambu menjadi perancah besi yang lebih aman dan tahan api.

ADVERTISEMENT

Dilansir Bloomberg, pada Maret 2025, pemerintah telah mengumumkan bahwa sekitar 50 persen proyek pembangunan publik baru harus menggunakan perancah logam ke depannya. Hal ini dikarenakan perancah bambu berpotensi tinggi terbakar dan jika dipakai dalam waktu lama mudah mengalami kerusakan. Oleh karena itu pemerintah Hong Kong mendorong untuk segera beralih ke perancah besi atau logam yang relatif kaku dan tahan lama.

Sayangnya, pada saat itu perubahan regulasi ini menuai reaksi keras dari para pelaku industri. Mereka berpendapat bahwa penyebab utama kecelakaan adalah protokol keselamatan yang tidak dipatuhi secara ketat. Beberapa pihak juga berpendapat jika transisi ke perancah logam akan mengakibatkan peralihan lapangan kerja dari perajin bambu lokal ke pekerja non-lokal, dan hilangnya warisan budaya.

Menteri Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Hong Kong Chris Sun mengungkapkan pada bulan Juli 2025 pemerintah belum berniat melarang penggunaan perancah bambu. Namun, setelah kebakaran fatal di Wang Fuk Court, John Lee mempertegas jika ke depannya mungkin penggunaan perancah bambu dalam proyek konstruksi akan dilarang dan memastikan para pekerja beralih menggunakan perancah logam, besi, atau baja yang lebih tahan api.

Material bangunan lain, seperti jaring hijau, platform kayu, dan papan pelindung juga akan dipertimbangkan karena material ini mudah terbakar. Lee mengatakan kemungkinan setiap proyek harus menambahkan perlindungan api yang memadai.




(aqi/aqi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads