Masyarakat Kampung Apung, Cengkareng, Jakarta Barat harus hidup berdampingan dengan air yang keruh. Sebab, mereka tinggal di lingkungan yang dipenuhi genangan air kotor.
Kampung Apung berdiri di atas lahan yang sudah terendam air selama hampir 30 tahun. Air yang menggenangi kampung tersebut kondisinya sangat buruk, warnanya hijau dan keruh. Air tersebut sama sekali tidak bisa digunakan untuk mandi hingga memasak.
Namun, air merupakan kebutuhan dasar hidup manusia. Sebagai solusinya, warga kemudian membeli air jerigen lewat tukang air yang berkeliling Kampung Apung setiap hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau untuk masak kita beli air pikul, harganya sekitar Rp 7.000 sepikul. Nah sepikul itu dapat sepasang (jerigen), itu buat kebutuhan masak air," kata mantan ketua RT 10 Kampung Apung Rudi Suwandi saat diwawancara, Rabu (27/8/2025).
Sedangkan untuk kebutuhan mandi dan mencuci pakaian, warga Kampung Apung mengandalkan air tanah. Meski begitu, kualitas airnya juga kurang baik karena agak sedikit keruh.
Tim detikProperti kemudian melihat langsung air tanah yang berada di Kampung Apung. Setelah dilihat, memang warnanya agak sedikit keruh. Lalu jika didiamkan dalam beberapa waktu, terdapat serbuk kuning yang mengendap di bagian bawah.
Selain keruh, kondisi air tanah di Kampung Apung juga tercium aroma bau. Maka tak heran warga enggan menggunakan air tanah untuk memasak karena memang tidak layak untuk dikonsumsi.
Di dalam Kampung Apung juga terdapat MCK atau mandi, cuci, kakus. Fasilitas umum ini digunakan oleh sebagian warga yang tidak memiliki kamar mandi di rumahnya. Sebab, ada beberapa rumah yang memang dibangun permanen, tapi ada juga yang semi permanen menggunakan material kayu.
"Di sini juga ada MCK, sering dipakai sebagian warga buat nyuci baju sama mandi. MCK ini sudah ada dari sebelum kampung ini tergenang air, ya sekitar tahun 80-an lah udah ada," ujarnya.
Air yang menggenangi Kampung Apung memang tidak bisa dipakai sama sekali untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, warga setempat memanfaatkannya dengan membangun kolam untuk budidaya ikan lele.
Bahkan, Rudi menyebut Kampung Apung pernah dikenal sebagai 'kampung budidaya lele' karena dapat menghasilkan banyak lele. Semua berawal saat ada sebuah LSM yang datang ke Kampung Apung untuk melakukan kegiatan bersih-bersih sampah pada 2007.
Usai kegiatan tersebut selesai, ternyata masih ada sisa anggaran sekitar Rp 500 ribu. Rudi dan warga sepakat untuk memanfaatkan sisa anggaran dengan membuat kolam ikan lele karena kebetulan air yang menggenang di Kampung Apung sudah bersih dari sampah.
"Akhirnya kita bikin kolam ikan lele aja, dari sisa uangnya dapat dua (kolam). Terus kita beli 2.000 bibit ikan, satu kolam lepas 1.000 dan yang satunya lagi 1.000 benih," paparnya.
Bisnis budidaya lele di Kampung Apung semakin besar setelah sejumlah LSM lainnya ikut memberikan bantuan berupa benih ikan. Namun, budidaya ikan lele sempat terhenti pada 2012 karena saat itu Pemprov DKI Jakarta melakukan pengurasan air yang menggenang
Kini, masih ada sejumlah tambak ikan lele di Kampung Apung. Namun, jumlahnya memang tidak sebanyak seperti belasan tahun lalu.
(ilf/ilf)