Warga yang menghuni Kampung Apung di Cengkareng, Jakarta Barat, kerap dihantui rasa takut. Sebab, lokasi rumah yang berada di atas genangan air memiliki sejumlah risiko tinggi.
Kampung Apung merupakan permukiman padat penduduk yang telah terendam air selama hampir 30 tahun. Awalnya kampung ini ditumbuhi banyak pohon sehingga terasa asri, tapi semua itu berubah ketika air mulai menggenangi kampung sejak 1996.
Kini, tinggi genangan air di Kampung Apung hampir mencapai 2 meter. Agar rumah tidak terendam air, warga kemudian merenovasi tempat tinggalnya menjadi rumah panggung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski sudah dibuat rumah panggung, tapi masih ada sejumlah risiko yang harus dihadapi para warga Kampung Apung. Salah satu kengerian yang menghantui adalah bisa jatuh ke dalam air yang cukup dalam.
Rudi Suwandi selaku mantan ketua RT Kampung Apung menuturkan ada beberapa kejadian warga tercebur ke dalam genangan air. Salah satu kejadian tersebut bahkan telah merenggut nyawa seorang balita.
"Ada kejadian anak balita nyemplung nggak ketahuan, pas tahun 2011. Waktu itu anaknya lagi tidur siang, terus ibunya mungkin lelah akhirnya ketiduran. Mungkin ibunya nggak tahu karena lagi tidur, eh pas bangun sudah nggak ada," kata Rudi saat diwawancara detikcom, Rabu (27/8/2025).
"Dicariin deh itu muter-muter kampung sama warga, tapi nggak ketemu. Akhirnya nyerah dan duduk di depan rumah karena capek. Pas lagi duduk, tiba-tiba anaknya ngambang di kolong rumah," ungkapnya.
Sejak kejadian itu, warga kemudian terus waspada ketika anak-anak sedang bermain di lingkungan Kampung Apung. Kini, beberapa sudut kampung telah dipasangi pembatas guna mencegah kejadian nahas itu kembali terulang.
Selain warga yang bisa tercebur, kengerian lainnya adalah sering ditemukan banyak hewan berbahaya seperti ular. Rudi menyebut kerap menemukan ular sanca dan ular piton di lingkungan Kampung Apung.
Bahkan, Rudi berujar ada sejumlah warga Kampung Apung yang digigit ular. Untungnya, ular yang muncul di Kampung Apung bukan kategori berbisa dan warga masih bisa sembuh dengan cara diobati.
"Di sini banyak (ular). Biasanya ular piton sama ular sanca. (Sempat ditangkap?) Sempat, waktu itu di kandang ayam ada dua ekor ular, saya bantu nangkap dibantu sama petugas Damkar," papar Rudi.
Ular yang ditemukan oleh warga rata-rata memiliki panjang sekitar 4-6 meter. Ular tersebut kadang berenang di atas genangan air, bersembunyi di kolong-kolong fondasi rumah panggung, atau bersembunyi di plafon rumah warga.
Tak hanya ular, warga juga sering menemukan biawak di lingkungan Kampung Apung. Saat banjir, jumlah ular dan biawak yang muncul ke permukaan jauh lebih banyak daripada biasanya.
"Biasanya kalau habis banjir, itu ular piton sama sanca banyak yang sering naik. Kalau habis banjir mulai surut mereka tetap naik. Pernah waktu itu ada yang nemu biawak sama dua ular sanca," tuturnya.
Selain ancaman hewan buas, beberapa rumah warga di Kampung Apung juga pernah roboh. Dalam catatan pemberitaan detikcom, ada empat rumah warga yang pernah roboh pada 2014.
Rumah tersebut roboh karena fondasinya dianggap sudah tidak kuat menahan beban berat. Selain itu, fondasi rumah bisa saja rusak karena terus terendam air selama puluhan tahun.
Rudi berujar kini sudah jarang terjadi rumah roboh di Kampung Apung. Sebab, rata-rata rumah warga sudah dibangun secara permanen menggunakan fondasi yang kokoh.
"Kalau pun rumahnya roboh itu biasanya sudah nggak ditempatin lagi. Nggak banjir pun, tau-taunya rumah bisa roboh aja kalau nggak ada yang huni," imbuhnya.
(ilf/das)