Saat berkunjung ke gedung-gedung tinggi, tentunya ada sebuah lift untuk membantu pengunjung pergi ke lantai atas. Ternyata, lift ini memiliki sejarah yang cukup panjang.
Dilansir dari CNN Style, lift penumpang pertama kali dipasang di Haughwout Department Store di New York, Amerika Serikat pada 1857. Operasi lift tersebut hanya bertahan selama tiga tahun karena masyarakat enggan menggunakannya. Dulu lift itu menggunakan tenaga uap dan bisa naik 40 kaki atau 12 meter per menit.
Dulu, lift lebih sering menjadi objek wisata turis karena memang belum banyak gedung tinggi kala itu. Bahkan, orang-orang lebih menyukai lantai-lantai bawah karena penghuninya tidak perlu menaiki banyak anak tangga. Semakin tinggi lantainya, semakin rendah pula harga sewanya
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lift Penumpang Pertama
Awalnya, lift dipakai untuk mengangkut barang. Lift tersebut tidak menggunakan mesin dan berada di ruang terbuka yang tentunya sangat berbahaya.
Dulu, lift lebih sering menjadi objek wisata turis karena memang belum banyak gedung tinggi kala itu. Bahkan, orang-orang lebih menyukai lantai-lantai bawah karena penghuninya tidak perlu menaiki banyak anak tangga. Semakin tinggi lantainya, semakin rendah pula harga sewanya
Acara tersebut sering digembor-gemborkan sebagai titik balik dalam sejarah lift. Relevansinya adalah Perusahaan Elevator Otis menjadi produsen lift terbesar sampai saat ini.
Paten pertama untuk lift diajukan pada 1859 oleh Otis Tufts yang memulai pemasangan lift pada tahun yang sama di dalam Fifth Avenue Hotel New York. Ada bangku di dalamnya, di mana orang dapat duduk.
Lalu di sisi lain, lift Elisha Otis tidak memiliki apa-apa selain platform dan dipatenkan pada tahun 1861. Namun, yang terpenting adalah rem keselamatannya dan menjadi standar kemudian hari dalam sejarah perkembangan lift.
Lift pertama tidak laku karena harganya mahal. Tetapi beberapa di antaranya sukses sebagai barang mewah di hotel-hotel di New York, London dan Paris.
Lift Tercepat
Shanghai Tower di Shanghai, China. Foto: Pexels/Margo Evardson |
Seiring dengan berkembang teknologi, lift bisa semakin cepat mengangkut pengunjung ke lantai tertentu. Misalnya lift di Shanghai Tower, China yang menjadi lift tercepat di dunia.
Dalam catatan detikcom, lift di bangunan ini menjadi yang tercepat di dunia yaitu mencapai 20,5 meter/detik atau 73,8 Km/jam. Kecepatannya hampir sama seperti seekor cheetah yang sedang berlari.
Dengan kecepatan tersebut, pengunjung dapat pergi dari lantai dasar hingga ke lantai 118 hanya dalam waktu 55 detik saja. Lift ini masih memegang Guinness World Record sebagai lift tercepat di dunia.
Cermin di Dalam Lift
Biasanya di dalam lift suka ada cermin. Pemasangan cermin ini bukan tanpa alasan.
Adanya cermin ini bisa mengurangi rasa takut akan ruangan sempit dan tertutup atau claustrophobia. Selain itu, adanya cermin ini juga bisa menghilangkan rasa bosan serta memberikan rasa aman karena bisa melihat sekitar lift.
Lift Tanpa Pintu
PRODUCTION - 18 August 2026, Hesse, Frankfurt am Main: The paternoster elevator at the Frankfurt Higher Regional Court is one of the few continuous-circulation elevators in Hesse. In a paternoster elevator, the cabins are constantly moving. Photo: Lea Winkler/dpa (Photo by Lea Winkler/picture alliance via Getty Images) Foto: dpa/picture alliance via Getty I/picture alliance |
Ya, dulu lift juga pernah dibangun tanpa pintu. Nama lift ini adalah paternoster.
Dilansir dari Smithsonian Magazine, lift ini pertama kali ditemukan oleh seorang arsitek asal Liverpool, Peter Ellis, pada 1860. Lift tanpa pintu ini biasanya ada dua, yang satu untuk naik yang satu lagi untuk turun.
Lift model ini banyak ditemukan di Eropa, seperti Eropa Timur, Inggris, Ceko, Denmark, dan Jerman. Biasanya, lift ini dipakai oleh pekerja di gedung pemerintahan dan tidak ada di tempat publik.
Dilansir dari BBC, di Inggris, lift paternoster populer pada era 1950-an sampai 1960-an sebelum akhirnya dilarang produksi pada 1970-an karena terkait dengan aspek keselamatan. Kini, banyak lift paternoster yang sudah tidak beroperasi karena dianggap berbahaya.
(abr/das)


