Sebuah rumah milik saudagar asal China di Medan ini memang sudah terkenal karena menjadi cagar budaya. Adalah Tjong A Fie mansion atau rumah Tjong A Fie.
Rumah dengan gaya perpaduan Eropa, Melayu, dan China ini dimiliki oleh pebisnis China bernama Tjong A Fie. Ia merantau ke Medan untuk meneruskan bisnis keluarganya yang salah satunya bergerak di bidang perkebunan.
Sejak selesai dibangun pada 1900, rumah ini belum pernah dilakukan renovasi besar dan masih berdiri kokoh hingga saat ini. Lantainya yang menggunakan tegel dan furniture serta material kayu yang digunakan pada rumah ini memberikan kesan yang homey.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu yang unik adalah satu set meja dan kursi yang ada di sana untuk menjamu tamu. Kursi dan meja tersebut menggunakan marmer dan kulit kerang asli yang berasal dari Eropa. Bahan ini pun masih tampak mengkilap, tak seperti terlihat berusia ratusan tahun.
"Ini meja dan kursinya terbuat dari marmer dan kulit kerang asli. Dan ini semuanya masih asli (dari tahun 1900). Ini semuanya berasal dari Eropa," ujar Selpi, pemandu di Tjong A Fie Mansion, Medan, Rabu (22/7/2026).
Meja di Rumah Tjong A Fie yang berlapis marmer dan kulit kerang. Foto: Almadinah Putri Brilian/detikcom |
Di dalam rumah ini juga ada ruangan yang sering dipakai untuk bertemu dengan Sultan Deli ke-9. Mereka berdua sangat akrab dan juga merupakan partner bisnis. Ruangan tersebut banyak menggunakan warna kuning dan hijau, seperti yang ada di Istana Maimun.
Ruang pertemuan dengan Sultan Deli ke-9 di Rumah Tjong A Fie Foto: Almadinah Putri Brilian/detikcom |
Lalu ada bagian taman terbuka di tengah rumah. Ini bukan sembarang taman saja, tetapi juga dianggap bisa mengalirkan rezeki.
Di lantai bawah ini terdapat kamar milik Tjong A Fie, ruang sembahyang, dapur, hingga kamar mandi. Sementara di lantai 2 ada sebuah ruang dansa serta kamar anak-anaknya Tjong A Fie.
Pada bagian langit-langitnya, dilukis tangan sehingga terlihat sangat cantik. Tiap ruangan memiliki lukisan yang berbeda pada atapnya.
Sosok Tjong A Fie
Dalam catatan detikcom, Tjong A Fie adalah saudagar kaya yang lahir di China pada 1860. Semula datang dari keluarga sederhana, ia hijrah ke Labuan Deli, Sumatera saat berusia 17 tahun mengikuti saudara laki-lakinya. Keduanya sukses membangun bisnis di sana.
Pada 1890, Tjong A Fie membangun rumah dan rampung pada 1900. Ia tinggal di Tjong A Fie Mansion bersama istri ketiga dan tujuh anaknya di rumah tersebut hingga akhir hayatnya pada 4 Februari 1921.
Tak hanya kaya, ia terkenal dermawan. Ia berkomitmen untuk memberikan sebagian kekayaannya untuk kepentingan komunitas di Medan. Tjong A Fie membangun sekolah, rumah sakit, kuil, gereja, masjid, dan fasilitas umum lainnya di Sumatera, Malaysia, dan China.
Rumah yang berdiri di atas lahan 8.000 meter persegi ini dijadikan museum pada 2009 atas inisiatif cucu Tjong A Fie, Fon Prawira. Alasannya, agar bangunan tidak terbengkalai seperti rumah Tjong A Fie yang ada di China.
Pada tahun 2010, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) meresmikan Rumah Tjong A Fie sebagai cagar budaya. Keseluruhan bangunan 70-80 persen masih asli. Barang-barang dan koleksi yang terdapat di Museum ini juga merupakan peninggalan langsung dari Tjong A Fie serta cucu dan cicitnya.


