Rumah tradisional di Arab dikenal memiliki dua elemen yang khas yaitu halaman terbuka di tengah rumah dan ruang lesehan besar yang disebut majelis. Keduanya bukan sekadar pilihan desain, melainkan tradisi budaya, agama, iklim, dan struktur sosial yang telah diterapkan selama ribuan tahun.
Arsitektur tersebut dikembangkan untuk menghadapi iklim panas dan kering sekaligus menjadi kebutuhan akan privasi dan kehidupan keluarga yang erat. Dari luar, rumah tradisional Arab sering tampak sederhana dengan bentuk kubusnya yang identik. Namun di bagian dalam, terdapat ruang-ruang kaya ornamen, taman kecil, hingga area berkumpul yang hangat dan intim.
Tradisi ini tetap bertahan hingga kini dan bahkan diadaptasi dalam hunian modern. Baik halaman dalam maupun ruang lesehan tetap menjadi tradisi turun temurun dalam budaya rumah di Arab.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan Rumah Tradisional Arab Memiliki Halaman di Tengah
Dilansir dari ArchDaily, rumah berhalaman ini telah muncul sejak awal milenium ketiga di kawasan Bilad al-Sham, wilayah antara Sungai Tigris dan Efrat. Tata letak ini awalnya berkembang dari tradisi nomaden Suriah dan Irak yang mendirikan tenda mengelilingi area pusat sebagai perlindungan.
Secara arsitektural, halaman dalam di rumah Arab dibuat dan difungsikan sebagai sistem pendingin alami. Udara panas naik dan keluar, sementara udara yang lebih sejuk bersirkulasi masuk ke ruang-ruang di sekitarnya. Desain ini sangat penting di iklim gurun yang panas dan kering. Beberapa rumah bahkan dilengkapi penangkap angin untuk membantu proses sirkulasi udara.
Selain faktor iklim, aspek sosial dan budaya juga berperan besar. Privasi merupakan nilai penting dalam budaya Arab dan Islam. Rumah-rumah tradisional dirancang dengan dinding luar tebal dan jendela kecil yang tinggi, sehingga aktivitas keluarga tidak terekspos ke luar.
Rumah tradisional Arab yang mempunyai halaman di dalam rumah, juga biasanya memiliki pembagian ruang yang jelas, seperti area untuk menerima tamu yang membentang luas di lantai dasar dan area privat keluarga di lantai atas. Lantai basement juga kerap difungsikan sebagai penyeimbang suhu saat musim ekstrem sekaligus ruang penyimpanan bahan makanan dalam jumlah besar.
Rumah Tradisional Arab Punya Ruang Lesehan
Ruang Majelis di Rumah Arab Foto: Unsplash/Datingscout |
Jika halaman menjadi jantung rumah, maka majelis adalah ruang sosial utamanya. Melansir catatan detikproperti, majelis adalah ruangan duduk formal yang biasanya menjadi ruang terbesar di dalam rumah Arab.
Secara tradisional, majelis digunakan untuk menerima tamu, berdiskusi tentang agama, politik, perdagangan, hingga menyelesaikan persoalan sosial. Dahulu, ruang ini menjadi tempat berkumpul para tetua suku dan kepala keluarga.
Konsep duduk lesehan di majelis mencerminkan nilai kerendahan hati. Semua orang duduk di permukaan yang sama, menciptakan suasana yang setara tanpa memandang status sosial. Furnitur utama berupa doshak atau kasur Arab yang diletakkan sepanjang dinding dan dilengkapi bantal sandaran bernama tekay. Jika ada tamu kehormatan, posisi duduknya ditempatkan di tengah.
Budaya melepas alas kaki sebelum masuk rumah juga membuat lantai berlapis karpet tebal menjadi nyaman dan bersih untuk duduk atau bahkan makan bersama. Minimnya furnitur besar di rumah tradisional Arab, membuat ruang lebih fleksibel mudah diatur ulang untuk pertemuan besar, jamuan makan, atau diskusi keluarga.
Majelis juga identik dengan aroma khas dari pembakar dupa, menggunakan wewangian seperti oud, safran, atau kayu cendana. Aroma tersebut menjadi simbol penghormatan menyambut tamu sekaligus menciptakan suasana hangat.
Di rumah modern, konsep majelis tetap dipertahankan, meskipun tampil lebih kontemporer dengan sofa rendah dan karpet mewah. Namun fungsinya tetap sama.
Baik halaman dalam maupun ruang lesehan menunjukkan bahwa arsitektur rumah tradisional Arab bukan sekadar soal estetika, melainkan perwujudan nilai keluarga, privasi, kesetaraan, dan adaptasi terhadap lingkungan.
(das/das)











































