Salah satu masjid tertua di Indonesia ini memiliki arsitektur yang cukup unik karena mencampurkan beberapa unsur budaya, seperti dari agama Hindu, Buddha, dan juga Islam. Masjid itu bernama Masjid Menara Kudus yang berada di Kudus, Jawa Tengah.
Masjid ini dibangun oleh Raden Ja'far Shadiq atau Sunan Kudus yang merupakan salah satu anggota Wali Songo. Untuk tahun berdirinya terdapat dua versi yang berbeda.
Menurut jurnal ilmiah yang berjudul Akulturasi Budaya Masjid Menara Kudus Ditinjau dari Makna dan Simbol karya Azzaki et al., 2021, pada mihrab masjid dituliskan bahwa masjid tersebut didirikan pada 956 H atau 1549 Masehi sementara pada manuskrip di lawang (kori) kembar Masjid Menara Kudus didirikan pada 1215 H.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalau ditinjau dari perkembangan Islam di Kudus, Masjid Kudus berdiri setelah Masjid Demak (1468), dan sebelum Masjid Mantingan (1559) serta Masjid Sendang Duwur (1561) didirikan. Dengan demikian, Masjid Menara Kudus didirikan kurang lebih sekitar abad 15-16 Masehi.
Dikutip dari detikHikmah, pembangunan masjid ini merupakan bagian dari dakwah Islam oleh Sunan Kudus yaitu dengan pendekatan budaya lokal. Contohnya terlihat dari arsitektur masjid yang menyerupai bentuk candi. Pada masa itu, mayoritas penduduk Indonesia banyak dipengaruhi kepercayaan Hindu-Buddha dan animisme-dinamisme.
Arsitektur Masjid Menara Kudus
Kompleks Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus. Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng |
Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 7.505 meter persegi ini memiliki tinggi 17 meter dan dikelilingi oleh 32 piringan bergambar sebagai ornamen. Pada bagian badan dan kaki masjid, terdapat ukiran dan pahatan dengan motif Hindu-Jawa, yang mencerminkan pengaruh kebudayaan lokal.
Bangunan masjid ini tersusun atas tiga bagian utama, yakni kaki masjid, badan masjid, dan puncak masjid, dengan susunan yang mirip dengan struktur bangunan candi.
Pada bagian kepala menara terbuat dari kayu jati dengan empat soko guru yang menopang dua tumpuk atap tajuk. Bagian puncak tajuk berbentuk seperti mustoko atau kepala yang merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa. Bagian menara masjid digunakan sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan, meletakkan bedug, kentongan, serta tempat berdzikir.
Di sisi lain, terdapat tempat wudhu kuno yang terbuat dari susunan bata merah dengan lubang pancuran berbentuk kepala arca berjumlah delapan. Jumlah ini konon dikaitkan dengan falsafah Buddha, yaitu Asta Sanghika Marga atau Delapan Jalan Utama. Sementara untuk bentuk arca seringkali dikaitkan dengan kepala sapi bernama Kerbau Gumarang karena binatang sapi dulunya diagungkan orang Hindu di Kudus.
Pada ruang utama masjid, terdapat gapura kuno bernama Lawang Kembar atau gapura paduraksa. Sementara itu, dilansir dari situs hima.fib.ugm.ac.id, disebutkan bahwa terdapat dua jenis pintu pada Masjid Menara Kudus yaitu pintu ganda khas gaya arsitektur Belanda dan pintu geser dengan material kaca khas arsitektur Mughal India.
Di belakang Masjid Menara Kudus juga terdapat makam Sunan Kudus yang dilindungi oleh cungkup tunggal dengan bentuk limasan. Di bagian pintu masuk makam, terukir kalimat Asmaul Husna dengan angka tahun 1296 H atau 1878 M. Jirat dan nisan yang terbuat dari batu andesit ini tampak masih asli.
(abr/das)











































