Tembok Besar China merupakan salah satu bangunan bersejarah yang masuk ke dalam tujuh keajaiban dunia. Membentang lebih dari 21.000 kilometer, tembok yang dibangun sebagai benteng pertahanan ini telah berdiri sejak ribuan tahun silam, tepatnya sejak abad ketujuh.
Menariknya, Tembok Besar China masih tampak kokoh sampai sekarang walau sudah menghadapi berbagai kondisi cuaca selama ribuan tahun. Apa rahasianya?
Ternyata, sebagian besar material Tembok Besar China disatukan oleh organisme bernama 'biocrusts', yakni lapisan tipis pada bahan organik yang membantu melindungi tembok dari erosi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Live Science, Senin (16/2/2026), para ilmuwan menganalisis bagian Tembok Besar China. Selama pembangunan, para pekerja di zaman dulu kerap menggunakan rameed earth, yaitu campuran bahan organik seperti tanah dan kerikil yang dipadatkan. Tujuannya agar dapat membangun tembok besar yang kuat.
Meski bahan-bahan tersebut mungkin lebih rentan terhadap erosi dibandingkan bahan lain seperti batu padat, tapi ternyata material ini sering kali membantu mendorong pertumbuhan biocrusts.
Tembok Besar China Foto: AP/Tatan Syuflana |
Setelah diteliti, plesteran hidup itu terdiri dari cyanobacteria atau mikroorganisme yang mampu melakukan fotosintesis, serta lumut yang dapat memperkuat konstruksi Tembok Besar China.
"Para pembangun zaman dahulu tahu bahan mana yang bisa membuat struktur lebih stabil," kata rekan penulis studi Bo Xiao, seorang profesor ilmu tanah di Fakultas Sains dan Teknologi Pertanahan di Universitas Pertanian China di Beijing.
Lebih lanjut, Xiao mengatakan pekerja di zaman dulu juga menggunakan tanah liat, pasir, dan perekat seperti kapur yang dilapiskan ke dinding. Langkah ini dapat membantu memperkuat konstruksi.
"Untuk meningkatkan kekuatan konstruksi, dinding yang dipadatkan selalu dibuat dengan tanah liat, pasir, dan perekat lainnya seperti kapur oleh pembuat aslinya," ujarnya.
Untuk menguji kekuatan Tembok Besar China, para peneliti mengumpulkan sampel di delapan bagian berbeda yang dibangun antara 1368 dan 1644 saat masa Dinasti Ming. Mereka menemukan bahwa 67% sampel telah mengandung biocrusts.
Dengan menggunakan instrumen mekanis portabel, para peneliti mengukur kekuatan mekanik sampel dan stabilitas tanah, lalu membandingkan data tersebut dengan tanah kosong.
Hasilnya, mereka menemukan bahwa sampel biocrust kadang-kadang bisa tiga kali lebih kuat dibandingkan sampel tanah datar. Sebab, organisme di dalamnya dapat mengikat erat dengan partikel-partikel di tanah, sehingga membantu memperkuat struktur bangunan lebih kokoh dan stabil.
"Hal ini karena cyanobacteria dan bentuk kehidupan lain di dalam biocrust mengeluarkan zat, seperti polimer, yang akan mengikat erat dengan partikel-partikel tanah yang bertabrakan, membantu memperkuat stabilitas strukturalnya dengan menciptakan apa yang pada dasarnya adalah semen," imbuh Xiao.
(ilf/das)











































