Seorang arsitek asal Turki membangun rumah yang dirancang khusus untuk menolak seluruh suara dari luar demi bertahan hidup secara medis. Rumah tersebut menjadi eksperimen arsitektur ekstrem yang memadukan desain, material alami, dan teknologi tingkat tinggi.
Dilansir dari New York Post, Kamis (15/1/2026), rumah ini disebut sebagai salah satu hunian paling sunyi di dunia. Dibangun oleh arsitek berusia 39 tahun bernama Onurcan Cakir. Ia menderita gangguan pendengaran langka berupa hiperakusis nyeri atau noxakusis. Kondisi ini membuat suara sehari-hari terasa sangat menyakitkan baginya.
Gangguan pendengaran yang dialami Cakir bermula pada tahun 2009 ketika ia masih menjadi mahasiswa musik dan sering menggunakan headphone dengan volume tinggi. Cedera akibat kebisingan membuatnya mengalami tinnitus dan sensitivitas tinggi terhadap suara.
"Sejak saat itu, saya harus melindungi diri dari suara-suara sehari-hari. Orang-orang tidak mengerti betapa sulitnya merasakan sakit karena suara. Saya tidak pernah keluar rumah tanpa penyumbat telinga," ujarnya dikutip dari New York Post.
Untuk melindunginya dari suara, Cakir membangun rumah di wilayah barat daya Turki. Ia mendesain dan membangun rumahnya menjadi sangat senyap. Satu hal yang paling penting baginya adalah ketenangan. Ketenangan bukan lagi sekadar kenyamanan, melainkan kebutuhan medis utama dalam hidupnya.
Ia bukan semata-mata mendambakan hunian hening yang menenangkan. Hunian tersebut dirancang sebagai sistem perlindungan akustik yang menyeluruh, mulai dari struktur bangunan hingga detail terkecil.
Material padat untuk menghalangi suara dari luar pun digunakan. Pintu ganda dan jendela tebal disegel rapat tanpa celah sedikit pun.
Salah satu dari tiga kamar tidur, bahkan difungsikan sebagai ruang aman atau panic room dengan dinding ekstra tebal. Hal ini ditujukan ketika suatu saat ia mengalami kondisi darurat akan kebisingan yang tak bisa dihindari.
Dalam konstruksinya, rumah seluas sekitar 900 kaki persegi itu memiliki dinding luar setebal hampir 20 inci. Dinding itu terbuat dari kombinasi batu, bata, dan insulasi. Ruang aman diperkuat dengan beton, rongga udara, serta wol mineral, lengkap dengan pintu ganda dan jendela tiga lapis untuk meredam transmisi suara.
Cakir menekankan pentingnya detail teknis dalam desain akustik. Menurutnya, sambungan fleksibel antar elemen bangunan dan kerapatan jendela serta pintu adalah kunci utama agar getaran suara tidak merambat ke dalam rumah.
Interior rumah dirancang tetap nyaman dan terang meski berlapis isolasi. Penggunaan perabot lembut, karpet, serta material alami membantu mengurangi gema di dalam ruangan. Dengan metode tersebut, rumah ini tetap terasa hangat dan modern, tidak seperti bunker tertutup yang benar-benar terisolasi, meskipun memiliki fungsi proteksi tinggi.
Tingkat kebisingan di dalam rumah ini, rata-rata hanya sekitar 30 desibel. Ukuran itu jauh di bawah suara dari percakapan normal yang umumnya mencapai 60 desibel. Bahkan suara lalu lintas, peralatan elektronik, hingga musik yang paling menyakitkan bagi Cakir dapat ditekan secara signifikan oleh sistem bangunan rumah tersebut.
Cakir memilih pindah ke desa kecil Barbaros dekat Izmir, membangun rumah anti suara dan tinggal bersama keluarganya. Saat ini, ia bekerja sebagai profesor madya bidang akustik arsitektur. Sebelumnya, Cakir mengaku sangat menderita tinggal di kota Istanbul yang padat penduduk dan bising.
"Semua orang menonton TV dan dianggap normal untuk membiarkan TV menyala di siang hari," ujarnya.
Meski berada di desa yang relatif sunyi, Cakir tetap harus beradaptasi dengan suara yang ada. Di sana, acara pernikahan dan festival juga digelar menggunakan pengeras suara. Namun berkat desain rumahnya, ia masih dapat meminimalisir suara agar tidak masuk ke dalam rumah.
Desain rumah yang dibuat, menjadikan hunian ini bukan hanya rumah tinggal, melainkan bukti nyata bagaimana inovasi arsitektur dapat menjadi solusi medis. Konsep rumah anti suara ini tak hanya relevan bagi penderita gangguan pendengaran, namun juga sebagai inovasi arsitektur hunian masa depan.
(das/das)