Alasan Sutradara Potong Banyak Adegan Telanjang di One Night Only

Muhammad Ahsan Nurrijal
|
detikPop
One Night Only (2026).
Foto: Dok. Ist
Jakarta - Sutradara Will Gluck merilis karya terbarunya yang bergenre komedi romantis berjudul One Night Only. Film ini mengusung premis mengenai satu malam dalam setahun di mana hubungan seksual pranikah dilegalkan oleh pemerintah.

Konsep tersebut kerap dibandingkan dengan waralaba The Purge, namun berfokus pada romansa ketimbang tindakan kriminal.

Film ini menampilkan Monica Barbaro sebagai Allie, seorang calon penyanyi yang sering membintangi iklan obat-obatan, dan Callum Turner sebagai Owen, pemilik kedai pizza yang sedang menghadapi masalah hubungan.

Keduanya dikisahkan sebagai orang asing yang terus bertemu di tengah kekacauan selama 12 jam di New York City pada malam tersebut. Mereka pun menjalani malam itu dengan banyak hal 'panas' yang mungkin belum pernah dicoba olehnya.

Namun dalam film ini sang sutradara tak mau memajang banyak adegan telanjang selayaknya film sejenisnya. Will Gluck menyadari adanya pergeseran selera penonton, yang dilaporkan mulai enggan melihat adegan seksual di layar lebar.

Berdasarkan data yang ia kumpulkan selama proses penyuntingan, ia akhirnya memutuskan untuk memotong banyak adegan telanjang yang sebelumnya telah diambil di jalanan New York.

"Setiap kali penonton melihat ketelanjangan atau situasi dewasa di bioskop besar, mereka merasa tidak nyaman. Saya memotong banyak sekali adegan karena manfaatnya tidak sebanding dengan dampak negatifnya. Kami terus melakukan penyuntingan hingga menemukan keseimbangan yang tepat agar penonton tetap terhubung dengan karakter," kata Will Gluck dalam wawancara dengan Variety dikutip detikcom, Sabtu (7/8/2026).

Menanggapi banyaknya pertanyaan mengenai logika dan aturan dunia di dalam filmnya, Will Gluck menyatakan ia tidak ingin penonton terlalu terpaku pada detail tersebut. Ia lebih memilih audiens untuk fokus pada perjalanan emosional para karakter.

"Para pemain datang ke acara bincang-bincang dan menghabiskan 80 persen waktu mereka hanya untuk menjelaskan aturan dunia di film ini, padahal bukan itu inti ceritanya. Kita harus membiarkan orang-orang melihatnya sendiri. Itulah alat terbaik yang kami miliki, terutama untuk sesuatu yang tergolong gila seperti ini," ujar Will Gluck.

Lagu-lagu dalam film ini juga menjadi perhatian khusus baginya. Ia sengaja memilih lagu-lagu populer yang sering dianggap memalukan namun memiliki daya tarik tinggi untuk membangun suasana cerita. Will Gluck percaya strategi promosi dari mulut ke mulut akan membantu film komedi romantis ini bertahan lama di bioskop.

"Saya belajar dari film terakhir saya bahwa penonton akan menemukan film ini dan merasa terkejut karena hasilnya tidak seperti yang mereka bayangkan. Saya menyebut fenomena promosi dari mulut ke mulut ini sebagai 'WOM-com' atau word-of-mouth comedy," pungkasnya.

(ahs/ass)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO