Gohan: Menangis Tanpa Henti Demi Si Gemas

Candra Aditya
|
detikPop

EDITORIAL RATING

5/5

AUDIENCE RATING

-
GOHAN

Sinopsis:

Gohan bercerita tentang perjalanan hidup seekor anjing liar berwarna putih yang terbagi dalam tiga babak. Babak pertama adalah ketika ia masih bocah. Babak kedua ketika ia remaja. Dan babak terakhir ketika si anjing putih menginjak usia dewasa.

Tiga era, tiga nama yang berbeda, dan tiga pemilik. Yang membuat film ini menjadi unik adalah bagaimana produser membagi tiga kisah tersebut dengan tiga sutradara yang berbeda.

Chayanop Boonprakob (sutradara SuckSeed, May Who, Friend Zone dan yang terakhir The Red Envelope) mengerjakan bagian pertama. Nattawut Poonpiriya (sutradara Countdown dan Bad Genius) mengerjakan bagian kedua.

Dan Atta Hemwadee (sutradara Not Friends) mengerjakan bagian terakhir. Keputusan ini tidak hanya menghasilkan drama yang menarik tapi juga rasa yang berbeda.

Review:

Dari gambar seekor anjing putih saja, Gohan sudah memberikan aroma-aroma film bau bawang. Untuk meyakinkan bahwa ini adalah film yang akan membuatmu mengharu biru.

Materi promosinya menuliskan bahwa Gohan dibuat oleh orang-orang yang bertanggung jawab atas How To Make Millions Before Grandma Dies, salah satu film paling menyedihkan sepanjang masa.

Gohan (2026).Gohan (2026). Foto: Dok. GDH 559

Dan memang yang dijanjikan pembuat filmnya benar adanya: Gohan akan membuatmu menangis. Tapi berita baiknya adalah kamu tidak akan depresi begitu filmnya usai.

Di segmen yang pertama, Boonprakob merangkai Gohan dengan cara yang paling sederhana. Hiro (Kitachima Yasushi) adalah seorang expat Jepang yang menolak untuk pensiun. Hidupnya berubah ketika seekor anjing berwarna putih tidak sengaja ia bawa.

Sejak saat itu, Hiro menemukan semangat baru dalam hidupnya. Hiro menamai si anjing dengan nama Gohan karena bulunya seperti nasi dalam bahasa Jepang.

Bagian pertama ini berhasil menggabungkan nuansa melankoli dengan humor film-film Thailand yang sangat khas. Interaksi Hiro dengan Gohan tidak hanya menggemaskan tapi juga menghangatkan. Dari detik pertama mereka bertemu, momen mereka berduaan sudah menjadi highlight tersendiri.

Gohan (2026).Gohan (2026). Foto: Dok. GDH 559

Poonpiriya kemudian mengganti gear di babak kedua dengan bumbu thriller. Namcha (Poe Mamhe Thar), seorang imigran gelap asal Myanmar, harus menghadapi sebuah masalah yang pelik. Ia butuh pekerjaan tapi pekerjaan yang ia lakukan sekarang tidak sepenuhnya legal atau pun etis.

Perubahan genre yang signifikan membuat cerita kedua Gohan menjadi agak lebih menakutkan. Kalau kamu sudah mulai menangis melihat akhir babak pertama yang begitu membahagiakan, bersiaplah untuk menelan kepahitan hidup di bagian kedua.

Meskipun pembuat skripnya masih memberikan momen-momen gemas dan humor di dalamnya, tapi tema yang serius membuat fase kedua hidup Gohan ini menjadi agak lebih susah ditelan.

Tentu saja panen air mata terjadi di babak ketiga, ketika Gohan memasuki usia tua. Di masa-masa terakhirnya, sutradara Hemwadee melukis kehidupan Gohan melalui percintaan dua karakternya, Pele (Jinjett Wattanasin) dan Jaidee (Tontawan Tantivejakul).

Gohan (2026).Gohan (2026). Foto: Dok. GDH 559

Kalau kamu sudah menonton Not Friends, kamu pasti tahu seperti apa selera humor Hemwadee. Komedi yang ada di bagian ini sangat penting untuk menetralisir semua momen dramatis yang akan terjadi.

Kalau boleh jujur, Gohan bisa saja memanipulasi penontonnya dengan lebih pol-polan karena plotnya bisa dibawa ke sana-seperti babak terakhir Marley & Me misalnya. Tapi Hemwadee memilih jalur yang lebih optimistik dengan bumbu percintaan anak muda.

Hasilnya adalah sebuah konklusi yang pas tentang sebuah anjing yang baik hati. Bukan hanya sekedar kisah eksploitasi anjing yang sudah masuk ke usia senja.

Film seperti Gohan tentu saja akan memberikan pengalaman yang berbeda bagi penonton yang benar-benar punya anabul atau punya pengalaman mengurus anabul dari kecil hingga dewasa.

Gohan (2026).Gohan (2026). Foto: Dok. GDH 559

Ada alasan kenapa kita selalu menangis menyaksikan kisah tentang binatang peliharaan yang menemani kita sampai dewasa. Rasa cinta mereka yang tulus, mau diolah seklise apa pun, tetap berhasil untuk membuat hati ini hangat.

Gohan pada akhirnya memang berhasil membuat penontonnya menangis. Tapi tangisan itu bukan sekedar tangisan kesedihan. Tangisan itu adalah bukti kalau kita mencintai Gohan, yang selalu mencintai setiap pemiliknya dengan tulus.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

Genredrama
Runtime141 minutes
Release Date14 April
Production Co.BASK
Director

Chayanop Boonrakob

Nattawut Poonpiriya

Atta Hemwadee

Writer

Thodsapon Thiptonnakorn

Baz Poonpiriya

Atta Hemwadee

Sopana Chaowwiwatkul

Chayanop Boonprakob

Cast

Jaonay Jinjett Wattanasin as Pele

Tontawan Tantivejakul as Jaidee

Poe Mamhe Thar as Namcha/Aye Shin

Kitachima Yasushi as Hiro


TAGS


MOVIE LAINNYA

SHOW MORE