Nicki Minaj Dukung Donald Trump, Ungkap Kekecewaan
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan majalah Time yang diberitakan Variety pada Kamis (14/5/2026), pelantun lagu Pink Friday ini menjelaskan pilihannya bukanlah keputusan yang diambil dalam semalam, melainkan hasil dari kekecewaan mendalam terhadap respons pemerintah dari Partai Demokrat saat dirinya mengalami masalah keamanan pribadi.
Pemicu utama keretakan hubungan Nicki dengan kubu Demokrat berawal dari serangkaian insiden swatting yang menimpanya.
Sebagai informasi, swatting adalah aksi jahat di mana seseorang melakukan panggilan darurat palsu ke polisi agar tim bersenjata lengkap (SWAT) mendatangi rumah target secara mendadak.
Nicki mengaku rumahnya telah menjadi sasaran swatting berkali-kali oleh para perundung (trolls) di internet, yang memicu respons kepolisian secara berlebihan dan membahayakan keselamatan keluarganya.
Di tengah situasi yang mencekam tersebut, Nicki berusaha mencari bantuan dan keadilan. Ia mengaku telah mengajukan permintaan resmi untuk duduk bersama dan berdiskusi dengan Gubernur California, Gavin Newsom (yang merupakan tokoh dari Partai Demokrat).
Namun, menurut pengakuan Nicki, permintaan tersebut sama sekali tidak mendapatkan respons.
"Saya meminta waktu untuk duduk bersama Gubernur Gavin Newsom setelah rumah saya di-swat beberapa kali, tapi dia diduga tidak membalas sama sekali," ujar Nicki.
Sikap abai dari pejabat publik tersebut menjadi titik balik bagi Nicki. Ia merasa bahwa pihak Demokrat tidak benar-benar peduli pada keselamatan dan aspirasi warganya, bahkan bagi seseorang dengan profil publik setinggi dirinya.
Kekecewaan ini kemudian merembet ke figur-figur besar di industri musik yang dianggapnya terlalu nyaman dengan sistem yang ada, termasuk Jay-Z.
Nicki mengecam mereka yang dianggapnya memonopoli pengaruh industri namun tetap bungkam atau justru mendukung struktur kekuasaan yang menurutnya tidak efektif.
Dalam konteks inilah Nicki Minaj mulai vokal menyuarakan pandangan yang lebih selaras dengan kubu Republik dan Donald Trump. Ia merasa bahwa narasi yang dibawa oleh kubu konservatif lebih relevan dengan perlindungan individu dan kebebasan berbicara dari tekanan massa.
Langkah Nicki ini memicu perdebatan panas di media sosial. Sebagian pendukungnya merasa paham dengan rasa frustrasinya terkait keamanan pribadi, sementara yang lain mengkritik keputusannya untuk beraliansi dengan Trump yang memiliki sejarah hubungan yang kompleks dengan komunitas hip-hop.
Terlepas dari pro-kontra tersebut, Nicki tetap pada pendiriannya bahwa ia berhak menentukan arah politiknya berdasarkan pengalaman hidup pribadinya, bukan karena tekanan industri maupun ekspektasi publik.
(ass/pus)











































